013. Katastrofi Toba 74.000 tyl: Volcanic Winter & Genetic Bottlenecking

 

Komentar singkat ini untuk menjawab pertanyaan Pak Andi Arief tentang kepunahan Homo sapiens setelah erupsi Toba. Saya jadikan posting baru untuk kemungkinan membuka diskusi2 baru. GeotrekIndonesia akan mendiskusikan hal ini lebih serius sekaligus saat mengunjungi Toba. Buku kecil 54 halaman dengan banyak data dan gambar baru kemarin saya selesaikan untuk dibagikan kepada para peserta geotrek ke Toba. Buku tersebut bercerita tentang Katastrofi Toba. Kita, orang Indonesia, harus tahu dengan baik “siapa” dan mengapa Toba itu sebab ia ada di Indonesia dan dari sinilah Prahara Besar Bumi pernah menyebar. Dari puluhan referensi yang saya pelajari, tak sampai 2 publikasi karya ahli2 kita tentang Toba. Karena itulah, di dalam buku tersebut, saya menceritakannya cukup lengkap dan semoga mudah diikuti.

Keberatan utama saya atas tesis Santos adalah bahwa gunung2api di India, Toba, Krakatau, Semeru meletus hebat bersamaan pada 11.600 tahun yl dan menyebabkan es mencair lalu membanjiriSundaland atau Atlantis menurut Santos. Mungkin Santos membayangkan panas gunungapi itu mencairkan es ya. Secara awam orang bisa berpikir begitu, dan saya bisa memakluminya sebab Santos bukan geologist.

Bahwa gunung2 itu meletus bersamaan juga saya tak bisa menerimanya sejauh data yang kita punya. Di India tak ada gunungapi setelah 50 juta tahun yang lalu, Toba meletus terakhir 74.000 tahun yang lalu, Krakatau meletus pertama tahun 460 M, dan Semeru juga meletus di zaman Masehi, kita tak punya data jauh ke belakang selain Toba yang sangat intensif dipelajari.

Letusan gunungapi besar akan menyebabkan musim dingin volkanik, Bumi bahkan membeku, bukan mencairkan es2nya. Tambora meletus 1815, menurunkan temperatur permukaan bumi 0,7 C (Rampino dan Self, 1992). Gunung Agung meletus 1963 menurunkan temperatur 0,3 C (Jones et al, 1982). Toba meletus 74.000 tahun yl menurunkan temperatur 5 C (Chesner et al., 1991). Letusan Toba yang melemparkan 800 km3 abu ke langit dan aerosol tersusun atas gas2 belerang telah membuat Bumi membeku 6-10 tahun, lalu Bumi menggigil selama 1000 tahun berikutnya (Rampino dan Self, 1992, 1993). Ada 10 milyar ton aerosol H2SO4 yang dilempar ke atmosfer saat Toba meletus mega-kolosal 74.000 tahun yang lalu itu. Ini telah membuat transmisi sinar Matahari hanya tinggal 0,001-10 % yang sampai permukaan Bumi. Maka Bumi membeku, banyak volume air laut ditarik ke kutub menjadi tumpukan es. Hanya dalam 7000 tahun, muka laut di seluruh dunia susut 40 meter, cepat sekali.

Fotosintesis sangat minimal dengan transmisi sinar Matahari di bawah 10 %. Fotosintesis tak terjadi, semua reaksi rantai makanan berikutnya akan berhenti, dan ujungnya adalah mass extinction, kepunahan massa. Adalah Ambrose (1998) dan Ambrose dan Rampino (2000) yang menghitung bahwa setelah letusan Toba itu, jumlah manusia menciut tinggal 5000-10.000 orang dari semula 100.000 orang penghuni Bumi. Inilah yang mereka sebut sebagai Population Bottlenecking, atau Genetic Bottlenecking. Dari kumpulan yang selamat inilah ras2 manusia masa kini diturunkan.
Pendapat2 ini juga diaminkan oleh ahli2 genetika yang lain seperti Oppenheimer (2003) dan Richard Dawkins (2004).

Toba pernah membuat prahara di Bumi: Katastrofi Geologi, 74.000 tahun yang lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s