019. Pengangkatan Pegunungan Meratus oleh Tektonik Gayaberat Ekshumasi

Ekshumasi adalah terangkatnya kembali suatu massa yang pernah tenggelam. Oleh para penulis, Meratus ditafsirkan sebagai ofiolit hasil diatropisma yang berakar di geosinklin Selat Makassar (van Bemmelen, 1949), atau ofiolit Meratus adalah hasil subduksi Late Cretaceous yang sejalur dengan ofiolit Ciletuh dan Luk Ulo seperti diplublikasi Katili (1974) dan Hamilton (1979). Menurut hemat saya (Satyana, 2003 -HAGI & IAGI; Satyana & Armandita, 2008-HAGI, Satyana, 2010-IPA; Satyana, 2012-AAPG), Meratus adalah suture Mesotethys hasil benturan antara mikrokontinen Schwaner dan Paternoster pada early Late Cretaceous, yang emplacement-nya dengan cara “obduction of detached oceanic slab”, yang lalu naik ke permukaan karena ekshumasi Paternoster di bawahnya.

Berikut ringkasan bagaimana emplacement & uplift ofiolit Meratus terjadi. Semoga gambar terlampir dapat menjelaskan, untuk detailnya tercantum di paper2 saya yang disebutkan di atas.

Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, adalah sebuah pegunungan ofiolit yang sejak Paleogen telah terletak di sebuah wilayah yang jauh dari tepi-tepi konvergensi lempeng. Pegunungan Meratus mulai terangkat pada Miosen Akhir dan efektif membatasi Cekungan Barito di sebelah baratnya pada Plio-Pleistosen.

Bagaimana sebuah pegunungan yang jauh dari tepi-tepi lempeng konvergen dapat terangkat ? Banyak penulis, misalnya Van de Weerd dan Armin (1992), menafsirkan bahwa pegunungan ini terangkat oleh kompresi lateral benturan mikrokontinen Buton-Tukang Besi atas Sulawesi Tenggara pada Miosen Awal. Data seismik di tengah Cekungan Makassar Selatan yang sama-sekali tidak menunjukkan kehadiran struktur kompresi pada Neogen dan kehadiran mikrokontinen stabil Paternoster yang membatasi Pegunungan Meratus ke sebelah timur tidak mendukung interpretasi yang diajukan van de Weerd dan Armin (1992).

Satyana (2003) merekonstruksi tektonik wilayah bagian tenggara Sundaland (Kalimantan tenggara, Jawa Tengah-Jawa Timur, Sulawesi Selatan) dan menyatakan bahwa ofiolit Pegunungan Meratus tidak seharusnya dihubungkan dengan ofiolit Ciletuh dan Luk Ulo seperti digambarkan oleh Katili (1974) dan Hamilton (1979) yang menyebutnya sebagai jalur penunjaman Kapur Akhir. Proses pengalihtempatan (emplacement) ofiolit Meratus berbeda dengan proses emplacement ofiolit Ciletuh dan Luk Ulo.

Satyana (2003) menyatakan bahwa Ciletuh dan Luk Ulo seharusnya disambungkan dengan singkapan kompleks ofiolit di Bantimala, Sulawesi Selatan yang berdasarkan umur metamorfisme dan radiolaria terjadi pada sekitar Maastrichtian (Kapur paling akhir), sedangkan emplacement ofiolit Meratus terjadi pada Albian-Aptian (Kapur Awal bagian atas).

Penelitian lebih lanjut yang dipublikasikan oleh Satyana dkk. (2007) serta Satyana dan Armandita (2008) berdasarkan interpretasi data geofisika (gayaberat) menunjukkan bahwa ofiolit Pegunungan Meratus merupakan detached oceanic crust (slab) yang lepas dari akarnya berupa slab induk di depan mikrokontinen Paternoster (tipe passive margin) pada saat terjadi proses akresi karena benturan antara mikrokontinen Paternoster dan mikrokontinen Schwaner (SW Borneo) pada Kapur Awal.

Detached slab Meratus terobduksi di atas dua mikrokontinen yang berbenturan ini, sementara sebagian kerak benua mikrokontinen Paternoster menunjam di bawah detached slab Meratus karena dibawa masuk ke dalam astenosfer oleh kerak samudera induk di depan mikrokontinen Paternoster.

Pada suatu waktu di sekitar Miosen Awal, karena perbedaan densitas kerak benua Paternoster (2,7 g/cc) yang ikut menunjam tetapi ringan dengan kerak samudera (2,9 g/cc) di depan benua Paternoster dan astenosfer di sekelilingnya (2,9-3,0 g/cc); maka kerak benua Paternoster yang densitasnya paling ringan putus sambungannya (break off) dengan kerak samudera di depannya yang melaju terus memasuki astenosfer yang makin dalam ke sebelah barat.

Sejak saat itu, kerak benua Paternoster yang sempat menunjam karena dibawa oleh kerak samudera di depannya terangkat kembali (ekshumasi) oleh tektonik gayaberat akibat perbedaan densitas. Tektonik gayaberat ekshumasi berupa pengangkatan kembali kerak benua Paternoster yang pernah menunjam ini turut mengangkat detached oceanic slab ofiolit Meratus yang hanya menumpang secara pasif (obducted) di atas kerak benua Paternoster.

Dengan cara tersebut, terangkatlah Pegunungan Meratus, seluruhnya melalui tektonik gayaberat ekshumasi akibat perbedaan densitas.

PengangkatanMeratus-1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s