215. SW Java (2): Ciletuh, Sebuah Keping “Jigzaw Puzzle”

Oleh: Awang H. Satyana

West Java-25

“Sebuah terobosan berpikir memerlukan keberanian untuk membangunnya, memercayainya, dan menindaklanjutinya.”

Kelas malam baru usai hampir tiga jam yang lalu. Di kelas saya mengatakan kepada kawan-kawan Pertamina Hulu Energi (PHE), “Ciletuh adalah sebuah keping jigzaw puzzle, ia bisa menjadi sebuah cerita sangat menarik dan berguna bila disatukan dengan keping-keping jigzaw puzzle lainnya, sehingga menjadi gambar utuh yang disusun rangkaian banyak keping jigzaw puzzle.

Seharian ini, kami berjalan menyusuri pantai yang menyingkapkan batuan-batuan ofiolit dan endapan sedimen lereng palung. Kami berjalan dari pantai Cikadal menuju pantai Cibiuk dan berakhir di pantai Legon Pandan. Ini adalah sebuah rute yang menyingkapkan batuan-batuan secara ideal beurutan dari tua ke muda, dari Kapur Bawah sampai Eosen Tengah, sebuah periode waktu antara 150-40 juta tahun yang lalu.

Di tepi pantai Cikadal setelah turun dari empat buah speedboat yang membawa kami dari Pelabuhanratu, saya memulai cerita dengan menunjukkan di lapangan apa yang disebut amfiteater Ciletuh itu dan mengapa terjadi, di mana Plato Jampang, di mana wilayah runtuhan Ciletuh. Lalu saya lanjutkan dengan menceritakan semua hal mendasar tentang ofiolit, melange, zona subduksi, palung, bahkan gerakan-gerakan lempeng tektonik.

Yang saya ceritakan adalah sebuah pengetahuan dasar dalam petrologi dan tektonik, sederhana saja. Tetapi pengetahuan dasar adalah sebuah fondasi, dan sebuah fondasi harus sangat kuat dan kokoh. Bila fondasinya lemah, runtuhlah semua bangunan di atasnya, tak peduli secanggih apapun. Maka saya juga menerangkan kembali Deret Bowen dan menceritakan sebuah logika dalam petrologi dan tektonik.

Kami pun mulai menyusuri pantai, kadang-kadang kami masuk ke hutan di atas pantai mengikuti jalan setapak, lalu turun lagi ke pantai. Semua peserta ikut berjalan dengan gembira, baik yang sangat senior seperti Pak Achmad Luthfi, Pak Eddy Purnomo, Pak Imam Sosrowidjojo, maupun yang baru bekerja di industri perminyakan belum tiga tahun. Dua orang nongeosaintis, yaitu dua orang sekretaris di PHE diajak juga berjalan di antara batuan-batuan yang langka ditemukan di tempat lain, dan mendengarkan cerita tentang geologi. Ini adalah perjalanan geologi pertama buat mereka.

Perjalanan ini menyenangkan sebab kami menemukan hampir semua batuan penyusun ofiolit dan sedimen di atasnya, meskipun sebagian berupa bongkah, yaitu: peridotit, gabro, sheeted dike, lava bantal, dan sedimen laut dalam yang didominasi batugamping merah. Di beberapa tempat ditemukan juga fragmen baturijang radiolaria. Batupasir grauwacke yang menunjukkan perlapisan menipis dan menghalus ke atas, yang langsung ditutupi endapan breksi polimik dengan fragmen batuan aneka jenis dan ukuran (Formasi Ciletuh bagian bawah, endapan lereng atas kipas bawahlaut) membuat teka-teki tersendiri di lapangan yang menantang untuk dicarikan jawabannya.

Setelah istirahat makan siang, sholat, dan sebuah kelas diskusi di bawah tenda di hutan tepi pantai, kami meneruskan perjalanan ke pantai Legon Pandan di sebelah barat Ciletuh. Di sinilah tersingkap batupasir dengan perlapisan yang baik yang merupakan endapan pasir di lereng bawah kipas bawahlaut, Formasi Ciletuh bagian atas.

Hari menjelang sore, dan kami pun pulang kembali ke Pelabuhanratu. Di tengah jalan nampak burung-burung laut berpesta menyambar ikan-ikan yang nampak di permukaan laut. Boat pun diarahkan ke sana, dan nakhoda boat berdasarkan pengalamannya melihat barisan ikan tuna berenang cepat di dekat permukaan laut. Maka memancing di laut menjadi selingan acara perjalanan pulang.

Di kelas malam yang baru lalu, saya mempresentasikan kembali makalah terbaru saya yang hampir dua minggu yang lalu saya presentasikan di pertemuan tahunan IPA 2014, “New Consideration on the Cretaceous Subduction Zone of Ciletuh-Luk Ulo-Bayat-Meratus: Implications for Southeast Sundaland Petroleum Geology”. Ada Ciletuh di situ, dan ia adalah sebuah jigzaw puzzle yang menyusun sebuah cerita utuh pemikiran baru tentang tektonik di tepi Sundaland pada Zaman Kapur.

Semua peserta PHE menjadi tahu mengapa Ciletuh dikunjungi, sebab ia adalah sebuah jigzaw puzzle yang penting. Dan dari sinilah sebuah perburuan hidrokarbon pra-Tersier di Sundaland selatan akan dimulai. Sebuah terobosan berpikir yang memerlukan keberanian untuk membangunnya, memercayainya dan menindaklanjutinya. Oil is firstly found in the minds of men – Wallace Pratt, 1952.***

West Java-21

West Java-22

West Java-23

West Java-24

West Java-26

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s