223. Gunung-Gununglumpur Jawa dan Madura: Pendekatan Geo-Histori

Oleh: Awang H. Satyana

Gununglumpur-3

Mas Soffian Hadi Joyopranoto (BPLS Surabaya-Sidoarjo) tagged saya foto Bledug Kuwu. Terima kasih mas. Saya jadi ingat sekitar tiga tahun lalu pernah ke Bledug Kuwu untuk mencari tahu kapan gununglumpur paling terkenal di Jawa ini lahir.

LUSI (Lumpur Sidoarjo), gununglumpur yang mengusir puluhan ribu penduduk yang semula mendiami tempat kelahirannya, lahir pada 29 Mei 2006, banyak orang menyaksikan kelahirannya. Tetapi bagaimana mengetahui kapan kelahiran gunung-gununglumpur lama? Ada sekitar 25 gununglumpur lama yang sudah teridentifikasi bertebaran di Pulau Jawa sampai di bawah laut Selat Madura.

Saya ingin ceritakan dulu bahwa gununglumpur tak pernah terjadi secara acak. Ia mengikuti hukum-hukum tertentu di dalam geologi.

DEPRESI KENDENG: RUMAH SELURUH GUNUNGLUMPUR

Tahun 2008, saya dan seorang rekan geophysicist pernah mempublikasikan di pertemuan IPA (Indonesian Petroleum Association) suatu studi regional seluruh gununglumpur di Jawa dan Madura untuk mengetahui apakah mereka punya pola tertentu. Mencari pola tertentu penting di geologi agar kita bisa memahami kejadiannya dan bisa melakukan prediksi buat kepentingan ke depan. Ternyata mereka mengikuti suatu hukum tertentu yang disebut hukum/sistem “elisional”.

Sistem elisional adalah suatu sistem geologi yang dicirikan oleh: cekungan yang dalam aktif tenggelam, sedimentasi cepat, kompaksi sedimen tidak sempurna, tekanan sedimentasi melewati batas tekanan hidrostatik (overpressured), deformasi aktif, umur sedimen muda (terutama Pliosen), terjadi pembalikan densitas batuan dari atas ke bawah (ada lapisan sedimen berdensitas rendah di lapisan bawah ditutupi oleh sedimen berdensitas tinggi di lapisan atas), dan kelakuan termal cekungan di atas rata-rata.

Kondisi-kondisi ini menyebabkan ada batuan sedimen kurang terkompaksi, overpressured, densitas rendah yang siap naik ke permukaan bila ada pemicunya. Bila ada sebuah retakan tiba-tiba mengenai massa batuan yang dalam kondisi sangat kritis ini, maka massa batuan ini akan meruntuhkan ikatan kohesi antar mineralnya, sehingga batuan menjadi sedimen lagi yang bersifat sangat buoyant -ringan, maka akan naik menuju permukaan menjadi “diapir”, dan bila terus tembus ke permukaan maka akan menjadi gununglumpur, meletuskan segala batuan, sedimen, air, juga bila ada gas dan minyak, semua yang diletuskan berasal dari tempat di bawah permukaan yang dilalui diapir ini dalam perjalanannya ke permukaan.

Di Jawa, Dalaman Kendeng yang kemudian terdeformasi hebat secara frontal menjadi Antiklinorium Kendeng memenuhi sistem elisional dengan baik, maka Dalaman Kendeng adalah rumah seluruh gununglumpur di Jawa. Batas baratnya adalah Kuningan (Ciuyah) dan batas timurnya adalah Selat Madura.

MENAFSIR UMUR GUNUNGLUMPUR

Kapan Bledug Kuwu di Grobogan Purwodadi itu terjadi? Apakah kita bisa menafsirkannya dari material yang disemburkannya dengan mengukur umurnya? Tidak, sebab nanti yang terukur adalah umur material yang disemburkannya. Dalam kasus Bledug Kuwu, yang disemburkan adalah batuan/material berumur Pliosen berdasarkan kandungan fosilnya.

Lalu bagaimana mengetahui umur kejadian sebuah gununglumpur lama? Ada dua cara: (1) cara geologi-geofisika – melihat deformasi diapir atas umur lapisan sedimen termuda yang dideformasinya, umur gununglumpur akan lebih muda daripada umur lapisan termuda yang dideformasinya, (2) cara geo-histori – mencari kronik sejarah atau cerita rakyat yang berhubungan dengan fenomena ini dan cari tahu kapan cerita rakyat ini mulai berkembang.

Saya sudah menerapkan kedua metode tersebut untuk kasus Bledug Kuwu.

Kebetulan Pertamina mempunyai penampang seismik yang melalui beberapa gununglumpur di area ini termasuk di dekat Bledug Kuwu. Dari data ini diketahui bahwa gununglumpur Bledug Kuwu terjadi pada masa Kuarter Atas sebab lapisan Plistosen bahkan Holosen dideformasinya. Maka umur Bledug Kuwu yang paling tua adalah <10.000 tahun.

Cara geo-histori, kejadian Bledug Kuwu berhubungan dengan cerita rakyat “Prabu Dewata Cengkar” dan juga “Ajisaka”. Penelitian folklore selanjutnya menunjukkan bahwa cerita rakyat ini terjadi pada saat Kerajaan Kalingga (Ho-Ling) di Jawa Tengah Utara 674-755 M ada (Ratu Sima, raja/ratunya yang terkenal). Maka bisa ditaksir bahwa Bledug Kuwu lahir minimal pada sekitar tahun 600-an M. Pada masa Kerajaan Mataram Islam ada di Jawa Tengah bagian selatan, penambangan garam dari Bledug Kuwu sudah terjadi. Bagaimana saya mengetahuinya? Sebab Mataram membeli garam dari Bledug Kuwu, itu yang tercatat di kronik sejarah Babad Tanah Jawi.

Beberapa gununglumpur lama di Jawa Timur, di area wilayah kekuasaan Singasari dan Majapahir terjadi atau lahir pada masa Hayam Wuruk atau Gajah Mada sekitar tahun 1300-an. Bagaimana saya mengetahuinya? Sebab gunung-gununglumpur itu tercatat dalam Kitab Pararaton dan disebutnya sebagai “bencana pagununganyar” – gunung baru sebab gununglumpur memang gunung baru yang semula tidak ada menjadi ada. Di area bekas kerajaan Janggala pun (Sidoarjo sekarang) ada gununglumpur yang meletus pada zaman Jenggala, dan itu bisa ditafsirkan dari cerita rakyat “Timun Mas”.

KRITIK ATAS KRONIK SEJARAH/CERITA RAKYAT (?)

Beberapa LSM di Jawa Timur mengritik cara saya menggunakan folklore dalam menceritakan kejadian gununglumpur, mereka curiga saya menggunakan cerita rakyat Timun Mas untuk membenarkan bahwa LUSI adalah bencana alam. Harusnya saya menggunakan geologi karena saya seorang geologist katanya. He2…tentu mereka tidak tahu bahwa saya sudah melakukan publikasi di banyak jurnal geologi menceritakan asal berbagai gununglumpur. Tetapi saya juga tak hanya menggunakan geologi, tetapi juga menggunakan kronik-kronik sejarah dan legenda atau cerita rakyat, sebab dokumen2 ini juga penting buat geologi Kuarter, yaitu peristiwa geologi yang terjadi pada masa sejarah manusia. Manusia mencatat peristiwa geologi yang tak dipahaminya saat itu ke dalam cerita rakyat, legenda, atau mencatatnya di kronik sejarah seperti Pararaton.

—————————————————–

Di Bledug Kuwu, setelah melakukan berbagai penyelidikan, saya membeli garam yang dijual di depan pintu masuk ke area ini. Itu adalah garam berumur 5-3 juta tahun yang lalu, yang berasal dari airlaut purba yang pada masa 5-3 juta tahun yang lalu masuk dari Selat Madura jauh ke barat sampai area Grobogan. Dan garam-garam ini pada waktu minimal sekitar 1400 tahun yang lalu diletuskan oleh Bledug Kuwu.

Makan garam berumur 5-3 juta tahun lalu adalah sebuah sensasi tersendiri bagi seorang geologist!***

Gununglumpur-1

Gununglumpur-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s