226. Indonesia: Dibangun 400 Juta Tahun

Oleh: Awang H. Satyana

IndonesiaDibangun-1

“Indonesia adalah sebuah ensiklopedia geologi. Para geologist Indonesia hendaknya mensyukuri, membaca dan memahaminya.”

————————————

GEOLOGI INDONESIA: BHINNEKA TUNGGAL IKA

Indonesia dalam aspek hayati dan nonhayati adalah sebuah “bhinneka tunggal ika”

Indonesia adalah sebuah wilayah yang dicirikan oleh ragam suku, bahasa, agama, tradisi, dan unsur budaya lainnya. Indonesia adalah sebuah wilayah yang dicirikan oleh ragam flora dan fauna. Indonesia pun adalah sebuah wilayah yang dicirikan oleh ragam geologi yang rumit namun menarik. Komponennya beraneka, namun menyusun kesatuan Indonesia: bhinneka tunggal ika.

Indonesia dari permukaannya sampai litosfer di bawahnya adalah sebuah area multigeologi, yang disusun oleh sekitar 20 blok litosfer yang berlainan asalnya, dari tempat-tempat asal yang ribuan km jauhnya, yang lalu masing-masing berjalan ke arah Khatulistiwa, dan akhirnya mereka saling bersatu menyusun Indonesia.

Inilah gambaran sejarah geologi Indonesia, bagaimana Indonesia terbentuk, yang melibatkan berbagai proses geologi: serbaasal, serbarumit dan serbapanjang.

PARA MIKROKONTINEN GONDWANA

Indonesia secara geologi dibangun atau membangun dirinya selama 400 juta tahun. Indonesia baru mendapatkan bentuknya seperti sekarang secara garis besar baru sekitar 5 juta tahun yang lalu, dan persis seperti sekarang sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Selama 400 juta tahun itu berbagai proses geologi yang serba rumit dan memakan waktu jutaan tahun terjadi: (1) lepasnya para mikrokontinen secara bertahap dari Gondwana – Gondwana adalah sebuah superkontinen di selatan Khatulistiwa pada masa Paleozoikum dan Mesozoikum, (2) berjalannya para mikrokontinen tersebut ke Khatulistiwa, (3) subduksi dan tertutupnya samudera demi samudera purba di antara para mikrokontinen tersebut (Samudera Paleotethys, Mesotethys, dan Cenotethys), akibat berbenturannya para mikrokontinen tersebut – mikrokontinen yang berjalan terlebih dahulu dibentur oleh mikrokontinen yang menyusulnya kemudian.

Proses nomor (1) sampai (3) terjadi kira-kira dari 400 – 60 juta tahun yang lalu. Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi bagian barat telah terbentuk seluruhnya di periode ini. Mereka disusun oleh berbagai mikrokontinen yang sangat beraneka ragam, yang direkatkan oleh aneka kerak batuan yang serba rumit yang dulunya bekas kerak samudera di antara para mikrokontinen itu, juga direkatkan dan diperluas oleh kerak batuan serba rumit hasil proses subduksi dan benturan.

“ESCAPE TECTONICS” MENGGESER & MENGOYAK INDONESIA BARAT

Lalu pada sekitar 50-40 juta tahun yang lalu membenturlah India, sebuah anak benua yang semula terkepit di antara Afrika dan Australia, atas Asia. Garis benturan itu kita kenal kini sebagai Pegunungan Himalaya, pegunungan tertinggi di dunia, yang ikut mengangkat sisi paling selatan Asia: Plato Tibet.

Akibat benturan ini, wilayah Indonesia Barat yang sudah tersusun sebagai persatuan para mikrokontinen, mirip sebuah “jigzaw puzzle” terkoyak lagi di beberapa tempat sambungannya dan terdorong ke luar ke arah tenggara tergeser sekitar 4000 km dari tempatnya semula, seolah melarikan diri dari benturan antara India dengan Asia. Gerakan “melarikan diri” ini disebut “escape tectonics” suatu reaksi atas aksi benturan, para ahli lain menyebutnya “extrusion tectonics” – yaitu gerak tektonik ke arah luar.

Adalah escape tectonics juga yang membelah bagian barat Sumatra oleh Sesar Sumatra, yang membuka Laut Cina Selatan, yang membelah Kalimantan menjadi dua oleh Sesar Lupar-Adang. Adalah escape tectonics juga yang membuka Selat Makassar menyebabkan Sulawesi Barat lepas dari Kalimantan bagian timur bergerak ke timur ke posisinya sekarang, dan yang memindahkan Sumba dari sekitar Teluk Bone ke posisinya sekarang di sebelah selatan Flores.

Escape tectonics besar efeknya, tetapi berlangsung sekitar 25 juta tahun saja.

KERAK AUSTRALIA MENYUSUN INDONESIA TIMUR

Menjelang berakhirnya escape tectonics pada sekitar 25 juta tahun yang lalu, Australia mulai bergerak ke utara karena ia lepas dari Antarktika yang bergerak ke selatan. Di utara Sulawesi Barat terjadilah busur kepulauan volkanik hasil subduksi lempeng samudera versus samudera. Lengan Utara Sulawesi ini kemudian menyatu dengan Sulawesi Selatan di Leher Sulawesi. Di utara Australia ada Paparan Arafura yang luas sekali sampai meliputi seluruh Laut Arafura dan paparan benua di selatan Papua. Sementara sebuah mikrokontinen bernama Kepala Burung lepas dari massa utama ini kemudian berbenturan lagi pada periode berikutnya dengan Badan Burung pada sekitar 10-5 juta tahun yang lalu.

Gerakan benua Australia ke utara ini di sektor Papua dan lempeng samudera di depannya akhirnya pada sekitar 15-10 juta tahun lalu berbenturan dengan sebuah busur kepulauan di Samudera Pasifik yang semula terletak jauh di utara Papua, dan inilah yang kemudian membentang di tengah Papua kini menjadi Pegunungan Tengah Papua yang sebagian bersalju.

Pada saat yang hampir bersamaan, terbukalah kerak samudera Banda akibat koyakan oleh tarikan lempeng samudera di depan Australia yang menunjam terlalu curam, dan pembukaan ini telah menyebabkan beberapa mikrokontinen asal Australia di area Kepala Burung terdesak bergerak ke baratlaut menuju Sulawesi dan secara berurutan membentur Sulawesi di bagian tenggara yaitu Buton dan di sebelah timur yaitu Banggai. Kerak samudera Ceno-Tethys terperangkap oleh benturan ini, terjepit dan terangkat menjadi singkapan ofiolit paling luas di Indonesia di Sulawesi Tengah.

5 JUTA TAHUN YANG LALU: GARIS BESAR INDONESIA

Indonesia mendapatkan bentuknya secara garis besar seperti sekarang sejak 5 juta tahun yang lalu. Saat itu di sebelah barat Sumatra, selatan Jawa dan Nusa Tenggara sampai sekitar Sumba, lempeng Samudera Hindia telah menunjam masuk ke dalam mantel atas Bumi membentuk palung dasar laut sedalam 5000-7000 meter.

Dari Sumba ke arah Papua atau Laut Arafura tak ada palung penunjaman lempeng Samudera Hindia, di sini justru lempeng benua Australia yang menunjam di bawah busur luar pulau-pulau yang melingkari Laut Banda, yaitu: Sumba, Timor, Tanimbar.

Di utara Papua, ada Samudera Pasifik yang batas tektonik dominannya rumit antara palung penunjaman dan sebuah patahan besar mendatar sangat panjang, sekitar 2500 km, bernama Sesar Sorong. Patahan ini sebenarnya merupakan batas lempeng antara lempeng Samudera Pasifik yang sejak 15 juta tahun yang lalu bergerak ke barat dan ujung utara lempeng benua Australia yang diduduki Papua.

Di antara Sulawesi dan Halmahera/Maluku ada fenomena tektonik yang sangat unik yang terjadi di Laut Maluku. Di sini terjadi subduksi ganda (double subduction), yang satu menunjam ke arah barat (di bawah Sulawesi), yang lain menunjam ke arah timur (di bawah Halmahera). Di Laut Maluku sendiri terjadi benturan dua sistem prisma akresi akibat subduksi ini, yang isinya semuanya merupakan batuan bancuh/ mélange. Pulau Talaud di utara Sulawesi dan Mayu di Laut Maluku adalah dua pulau terangkat yang seluruhnya dibentuk benturan mélange ini. Fenomena seperti ini tak ada duanya di dunia, hanya ada di Indonesia.

Di utara Sulawesi, terdapat palung penunjaman dari kerak samudera Laut Sulawesi yang menunjam miring ke arah selatan. Sungguhpun demikian, penunjaman ini pada masa kini tidak aktif menghasilkan gejala volkanisme di Lengan Utara Sulawesi. Gunungapi-gunungapi Sulawesi teraktif bergeser ke ujung timurlaut Lengan Utara, dipicu oleh subduksi kerak samudera Laut Maluku ke arah barat.

Di sebelah baratlaut Kalimantan dan utara Natuna adalah Laut Cina Selatan, yang merupakan kerak samudera hasil pemekaran selama sekitar 20 juta tahun, dari sekitar 40 ke 20 juta tahun yang lalu hasil escape tectonism.

Di dalam wilayah Indonesia sendiri ada dua lautdalam hasil proses tektonik yang rumit. Selat Makassar dengan kedalaman maksimum 2500 meter, yang batuan dasar di bawahnya masih merupakan kerak benua, terjadi hampir seumur dengan Laut Cina Selatan, terbentuk akibat retak dan menipis serta melebarnya kerak benua. Kemudian Laut Banda, dengan kedalaman maksimum 5000 meter dan berbatuan dasar kerak samudera. Laut Banda terbentuk sangat muda, sekitar 5 juta tahun lalu, terbentuk akibat tarikan dan pembukaan oleh lempeng samudera di depan benua Australia yang menunjam ke utara terlalu curam. Semua penunjaman yang terlalu curam akan mengoyak, menarik dan membuka kerak Bumi yang duduk di atas zona penunjaman. Dan ada Dalaman Weber di sebelah timur Laut Banda yang sangat dalam, 7000 meter, hasil runtuhan tektonik.

Pada intinya, semua penunjaman lempeng-lempeng samudera atau lempeng benua ini akan bersifat menekan wilayah Indonesia, sehingga sebagian besar wilayah Indonesia sejak 5 juta tahun yang lalu itu mulai muncul secara signifikan dan terus-menerus di atas lautan, membentuk pulau-pulau Indonesia. Sebagian pulau telah terbentuk di periode-periode sebelumnya.

“Finishing touch” Kepulauan Indonesia menjadi bentuknya persis seperti sekarang baru terjadi sekitar 10.000 tahun yang lalu seiring dengan terjadinya deglasiasi, mencairnya es di kutub-kutub Bumi, digenanginya daratan besar Sundaland dan Arafura menjadi paparan (laut dangkal, benua yang tenggelam) Sunda dan paparan Arafura/Sahul.

—————————————————-

Kejadian Indonesia secara geologi adalah dahsyat, ada riwayat kerak-kerak Bumi yang dibenturkan, ditunjamkan, ditekan, ditarik, dibuka, diangkat, dikoyak, digeser, diruntuhkan, ditenggelamkan, dan sebagainya. Serbaasal, serbarumit, serbapanjang – 400 juta tahun.***

IndonesiaDibangun-2

 

IndonesiaDibangun-3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s