228. Makhluk cerdas dari luar bumi: Adakah?

 

Oleh: Awang H. Satyana

Wallahualam bishawab — Dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya.

Sebab manusia hanya memenuhi rasa ingin tahunya yang dahsyat…

Setelah hampir 25 tahun mencoba mencari kontak dengan makhluk cerdas dari luar Bumi ternyata gagal, pencarian kehidupan di luar Bumi kini kembali ke kehidupan primitif – mikroba…

———————————————————-

228_1

“Europe” satelit Yupiter, 800 juta km dari Matahari, kini menjadi perhatian intensif para ilmuwan Amerika Serikat pemburu kehidupan di luar Bumi. Satelit ini diduga menyimpan samudera cair di balik permukaannya yang ditutupi es beku. Pertengahan tahun 2020-an, sebuah wahana antariksa akan mengorbit Yupiter mendekati satelit ini. Sebuah robot peneliti barangkali akan ditembakkan ke Europe untuk menembus permukaan bekunya, agar robot peneliti ini bisa merenangi samuderanya, dan barangkali akan menemukan: extraterrestrial intelligence, alien, atau hanya sekadar mikroba? Belajar dari Bumi, tanpa samudera cair, kehidupan tidak akan ada.

Misi tersebut akan memakan ongkos Rp 25 trilyun. Anggaran itu hanya sekitar 10 % dari anggaran subsidi BBM di Indonesia tahun 2014. Rasanya tidak besar. Tetapi apa Pemerintah kita mau menganggarkannya untuk penelitian kehidupan di luar Bumi? Mungkin tak akan pernah. Maka kita cukup ketahui saja kemajuan penelitiannya. Bersiaplah menjadi penonton yang baik.

———————————————————-

ET & UFO

228_2

Sebagian besar dari kita mungkin ingat Steven Spielberg, sutradara dan producer film terkenal dari Hollywood yang pada tahun 1982 membuat film fiksi ilmiah berjudul “ET” extraterrestrial, maksudnya makhluk cerdas luar Bumi atau “alien”. Sukses tema ini kemudian segera diikuti oleh banyak film lainnya yang sejenis, sehingga ET atau ETI (extraterrestrial intelligence) mendadak populer pada tahun 1980-an.

Jauh sebelumnya, juga ada berita-berita misterius tentang penampakan UFO – unidentified flying object. UFO adalah wahana luar angkasa tidak dikenal, atau benda terbang tidak dikenal. Beberapa orang bersaksi melihat UFO bahkan mereka mengaku berkomunikasi dengan UFO, termasuk beberapa kejadian di Indonesia.

Menghubungkan UFO dan ET adalah, bahwa UFO merupakan kendaraan ET.
Ceritanya makin seru karena ada laporan-laporan bahwa konon ET ini pernah menculik manusia (untuk dipelajari), juga kabarnya ET dan UFO menjadi objek penelitian rahasia militer Amerika. Pemberitaan yang misterius dan film-film fiksi ilmiahnya membuat ET dan UFO makin populer.

ET/ETI digambarkan sebagai makhluk cerdas, bahkan lebih cerdas dari manusia Bumi. Karena mereka dianggap cerdas maka kajian ET menjadi menarik.

Masalah ET atau UFO bukan baru muncul di pertengahan abad ke-20, tetapi jauh sebelumnya ke masa prasejarah. Beberapa penganut arkeoastronomi (astronomi berdasarkan artefak prasejarah atau sejarah) bahkan percaya bahwa bangunan-bangunan besar di dunia yang dibuat manusia dan dianggap terlalu maju pada zamannya, dibangun dengan campur tangan para makhluk ET.

KONTAK DENGAN MEREKA?

Bumi kita adalah satu titik teramat kecil di keluasan tak terbatas Jagat Raya. Bumi kita dipenuhi makhluk hidup dari sesederhana mikroba sampai sekompleks manusia. Karena Bumi kita hanya titik yang hampir tak terlihat di keluasan Jagat Raya, tetapi penuh kehidupan, maka sangat wajar bila manusia ingin tahu apakah ada kehidupan lain di luar Bumi, di keluasan tak terbatas Jagat Raya, kehidupan yang sederajat dengan manusia, atau sedikit di bawahnya, atau mungkin lebih maju.

Kalau ada, apakah mereka pernah mengunjungi Bumi. Menurut para penganut arkeoastronomi, mereka pernah datang ke Bumi pada masa prasejarah dan sejarah, mengajari manusia membangun bangunan-bangunan besar yang sulit dibayangkan bisa dibangun oleh manusia pada masa itu.

Kalau ada, apakah manusia masa kini bisa melakukan kontak dengannya. Kontak, untuk keperluan itulah maka banyak teleskop radio pemancar sinyal-sinyal dibangun di atas permukaan Bumi, dihadapkan ke segenap penjuru langit berusaha menangkap sinyal-sinyal kontak dari mereka.

“FERMI PARADOX”

Hampir 25 tahun teleskop-teleskop radio ini memancarkan sinyal ke segenap penjuru luar angkasa, tetapi sinyal-sinyal ini lenyap begitu saja ditelan kegelapan Jagat Raya, tanpa satu sinyal pun diterima.Tak ada satu “beep” pun terbaca atau “terdengar” di layar monitor yang dipasang 24 jam selama hampir 25 tahun itu. Harapannya, “beep” itu adalah salam pembuka dari makhluk cerdas di luar Bumi (ETI) yang menyapa para manusia Bumi.

“Kalau kehidupan itu suatu hal yang umum di Alam Semesta, seperti diyakini Carl Sagan (alm.) –seorang astronom terkenal dan tokoh eksobiologi (ilmu kehidupan di luar Bumi), mengapa tak pernah ada kontak?” Pertanyaan ini terkenal sebagai Fermi paradox. “If the universe is teeming with aliens, where is everybody?”.

Program SETI – search of extraterrestrial intelligence yang lebih dari 25 tahun menjadi anggaran rutin dalam belanja Amerika Serikat, dianggap gagal. Pada bulan November 2011 Pemerintah Amerika Serikat membuat pernyataan resmi: “The U.S. government has no evidence that any life exists outside our planet, or that an extraterrestrial presence has contacted or engaged any member of the human race.”

Apakah ini akhir eksobiologi? Nampaknya tidak, sebab masih ada wahana-wahana yang sedang berjalan meneliti benda-benda di Jagat Raya untuk mencari ciri-ciri kehidupan. Ada juga program-program dan wahana luar angkasa yang sedang disiapkan untuk meneliti kehidupan extraterrestrial.

Tetapi nampak ada perubahan objek pencarian. Bila dulu yang dicari adalah makhluk-makhluk cerdas di luar Bumi seperti di film-film ET/ ETI, sekarang kelihatannya yang dicari adalah bukti-bukti kehidupan alamiah di luar Bumi, lebih khusus lagi bukti awal kehidupan.

KEHIDUPAN PRIMITIF DI EUROPE DAN MARS?

Para ilmuwan meyakini bahwa beberapa satelit dan planet di Jagat Raya ini menyimpan kehidupan, hanya mereka tersembunyi di lingkungan ekstrem yang selama ini tidak pernah diduga. Para ilmuwan telah menemukan air di beberapa satelit dan planet, hanya dalam kondisi membeku, atau mereka telah menemukan jejak-jejak air yang sekarang telah lenyap. Air adalah kehidupan, di mana ada air di situ ada kehidupan. Berbekal prinsip ini, maka beberapa planet dan satelit menjadi incaran pencarian kehidupan.

Majalah National Geographic edisi terbaru (Juli 2014) menceritakan simulasi penelitian para ilmuwan di beberapa tempat ekstrem di Bumi untuk persiapan penelitian di satelit Europe dan kawah volkanik Mars.

Yang pertama adalah Europe, satelit Yupiter yang berjarak 800 juta km dari Matahari. Permukaannya ditutupi air yang membeku menjadi es, tetapi wahana antariksa Galileo yang pernah melintas di dekatnya mengirimkan foto-foto yang ditafsirkan bahwa ada samudera cair di balik es yang membeku di permukaannya. Jangan-jangan ada kehidupan di samudera Europe. Siapa tahu. Untuk itulah para ilmuwan kini sedang menguji wahana antariksa robotik yang kelak akan ditenggelamkan ke samudera raya Europe untuk mengejar kehidupan extraterrestrial. Pengujian dilakukan di sebuah danau beku di Alaska.

Beberapa bentuk kehidupan mungkin terdorong ke lingkungan-lingkungan ekstrem gua bawahtanah yang kaya akan gas belerang dan karbon monoksida sisa kawah gunungapi. Mars punya kawah seperti itu. Wahana penjelajah NASA, Curiosity, saat ini sedang menjelajah kawah Gale, yang milyaran tahun silam ditempati danau besar. Lingkungan kimiawi danau itu mungkin dapat mendukung kehidupan yang unik. Sebuah simulasi penelitian dilakukan para ilmuwan di sebuah gua di Meksiko yang terkubur di kedalaman 15 meter dan kaya akan gas belerang serta karbon monoksida. Para ilmuwan menemukan sebentuk kehidupan yang mereka namakan bioverm berkembang di lingkungan ekstrem ini.

BUMI: COPERNICAN PRINCIPLE & MEDIOCRITY ?

Carl Sagan menganggap bahwa Bumi tidak unik di Jagat Raya ini. Bumi memenuhi “mediocrity” atau “Copernican principle” –yaitu ketidakistimewaan. Sehingga kehidupan sekompleks seperti di Bumi juga bukan sesuatu yang unik di Alam Semesta ini. Mestinya, kehidupan ekstraterestrial, di luar Bumi, berlimpah di Jagat Raya ini. Demikian, pikiran Carl Sagan.

Untuk membuktikannya, Carl Sagan memelopori program SETI –search of extra terrestrial intelligence yang didukung penuh Pemerintah AS. Namun setelah 25 tahun berjalan, ternyata tanpa hasil, Pemerintah AS pada 2011 memutuskan bahwa tak ada ETI itu, dan tak pernah ada kontak antara ETI dan manusia. Sebuah akhir yang tragis bagi SETI. Carl Sagan sendiri telah pergi mendahului programnya, meninggal pada 1996.

Apakah memang tak ada kehidupan lain yang kompleks (seperti di Bumi) di luar Bumi, di Alam Semesta yang begitu luas itu ? Apakah Alam Semesta itu hanya diciptakan untuk makhluk bernama manusia yang tinggal di sebuah planet yang begitu kecil di Alam Semesta yang begitu luas ?

Mengapa kita sampai sekarang tak berhasil mengadakan kontak dengan ETI? Mungkinkah kehidupan yang kompleks seperti di Bumi yang pada puncaknya dapat melahirkan manusia yang menggunakan teknologi adalah sangat jarang,sangat langka di Alam Semesta?

Kalau iya, maka Bumi itu unik, bukan mediocrity, bukan Copernican principle.

Mengapa kehidupan seperti di Bumi adalah sesuatu yang sangat langka di Jagat Raya ? Sebab bentuk kehidupan kompleks di Bumi ini muncul oleh banyak syarat astronomi dan geologi sedemikian rupa yang sulit terjadi di tempat lain.

Serangkaian syarat itu adalah : (1) planet harus berada di dalam galactic habitable zone, (2) bintang dan sistem planetnya punya karakter tersendiri, (3) planet harus berada dalam circumstellar habitable zone –zone layak kehidupan di sekeliling bintang, (4) ukuran planet harus tepat, tak boleh terlalu kecil tak boleh terlalu besar, (5) planet harus punya satelit yang cukup besar yang bisa mengakibatkan planetnya mendukung kehidupan, (6) planet harus mempunyai magnetosfer dan gerak tektonik lempeng, (7) komposisi kimiawi listosfer harus mendukung kehidupan, (8) planet harus memiliki atmosfer dan lautan, (9) planet harus punya peristiwa katastrofik yang dapat memicu evolusi –‘evolutionary pumps’ seperti glasiasi masif atau benturan benda langit seperti yang terjadi saat ledakan jumlah spesies pada Cambrian explosion. Kemunculan makhluk cerdas seperti manusia butuh syarat-syarat lainnya lagi –misalnya planet harus mengalami peristiwa evolusi jangka panjang.

BUMI: SEBUAH TAKDIR, BUKAN KEBETULAN?

Yang sedang dilakukan para ilmuwan dengan mencari kehidupan primitif di berbagai tempat di Alam Semesta sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Sebab kalau hanya mikroba atau protoplasma atau bahkan asam amino, sebenarnya banyak ditemukan di berbagai benda langit. Yang menarik adalah kalau makhluk cerdas ditemukan. Sebab Bumi mengembangkan manusia cerdas, bukan hanya mikroba.

Planet-planet tentu saja akan banyak di Alam Semesta ini dari milyaran galaksi yang ada. Tetapi planet yang dapat mendukung kehidupan kompleks seperti di Bumi, sama sekali bukan sesuatu yang mudah. Ada fungsi anomali astronomi dan geologi, sedemikian rupa sehingga mereka mendukung kehidupan yang kompleks.

Dan anomali-anomali itu terlalu banyak kebetulannya agar Bumi mendukung kehidupan yang kompleks. Terlalu banyak kebetulan itu tidak masuk nalar sains, maka mestinya bukan kebetulan yang terjadi, tetapi sebuah takdir yang telah diatur.

“Pada mulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi….Berfirmanlah Allah…Jadilah terang….Jadilah cakrawala…Jadilah lautan….Jadilah tumbuhan ….Jadilah binatang-binatang di laut, binatang-binatang di udara, binatang-binatang di darat, dan jadilah manusia, laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka…” (Kejadian 1:1-27).

Pada akhirnya, kita mungkin harus mengakui bahwa Bumi adalah sebuah takdir…bukan kebetulan. Apakah Allah menakdirkan kehidupan yang sama di luar Bumi? Wallahualam bishawab – dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s