247. Mudik-Balik Lebaran Melalui “Selat Muria”

Oleh: Awang H. Satyana

mudik-1

mudik-2

Kawan-kawan yang mudik-balik Lebaran dari Jakarta/Bandung/Cirebon/Semarang dan lain-lain di barat dengan tujuan Surabaya/Malang dan lain-lain di timur, dan sebaliknya, serta memilih jalur jalan darat pantura (pantai utara Jawa), akan melalui jalan raya Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang.

—————————————

Kawan-kawan yang mudik-balik Lebaran dari Jakarta/Bandung/Cirebon/Semarang dan lain-lain di barat dengan tujuan Surabaya/Malang dan lain-lain di timur, dan sebaliknya, serta memilih jalur jalan darat pantura (pantai utara Jawa), akan melalui jalan raya Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang.

Lima ratus sampai tiga ratus tahun yang lalu, jalur jalan raya tersebut masih berupa sebuah selat memanjang barat-baratdaya-timur timurlaut. Selat ini memisahkan sebuah pulau volkanik tempat Gunung Muria terjadi dengan Jawa Tengah. Selat itu kita sebut saja “Selat Muria”.

Di jalur ini ada kota terkenal dalam sejarah Jawa, Demak, yang pada abad ke-16 merupakan sebuah kerajaan/kesultanan bernama Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Mohammad Ali (1963) dalam “Peranan Bangsa Indonesia dalam Sejarah Asia Tenggara” –Bhratara, menulis bahwa pada suatu peristiwa Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak, diperintahkan oleh gurunya, Sunan Ampel dari Surabaya, agar merantau ke barat dan bermukim di sebuah tempat yang terlindung oleh tanaman gelagah wangi.

Dalam perantauannya itu, Raden Patah sampailah di daerah rawa di tepi selatan Pulau Muryo (Muria), yaitu suatu kawasan rawa-rawa besar yang menutup laut atau lebih tepat sebuah selat yang memisahkan Pulau Muryo dengan daratan Jawa Tengah. Di situlah ditemukan gelagah wangi dan rawa; kemudian tempat tersebut dinamai Raden Patah sebagai “Demak”. Kata Demak itu berasal dari kata Bahasa Arab, yaitu ‘Dhima’ yang artinya rawa.

De Graaf dan Th. Pigeaud (1974), “De Eerste Moslimse Voorstendommen op Java” –Martinus Nijhoff) punya keterangan tambahan tentang lokasi Demak pada abad ke-15 dan 16. Ditulisanya, selat yang memisahkan Jawa Tengah dan Pulau Muryo pada masa itu cukup lebar dan dapat dilayari dengan leluasa, sehingga dari Semarang melalui Demak perahu dapat berlayar sampai Rembang. Pada abad ke-16 Demak menjadi pusat penyimpanan beras hasil pertanian dari daerah-daerah sepanjang Selat Muryo. Adapun Juwana pada sekitar tahun 1500 pernah pula berfungsi seperti Demak.

Namun pada abad ke-17 selat tadi tidak dapat dilayari sepanjang tahun karena telah terjadi pendangkalan di beberapa tempat. Dalam abad ke-17 khususnya pada musim penghujan perahu-perahu kecil dapat berlayar dari Jepara menuju Pati yang terletak di tepi sungai Juwana. Pada tahun 1657, Tumenggung Pati mengumumkan bahwa ia bermaksud memerintahkan menggali terusan yang menghubungkan Demak dengan Pati sehingga dengan demikian Juwana dapat dijadikan pusat perniagaan. Penggalian terusan itu untuk mengatasi pendangkalan selat agar berfungsi lagi.

Ketika dalam abad ke-17 sedimen di Selat Muryo sudah semakin banyak dan akhirnya mendangkalkannya sehingga tak dapat lagi dilayari, pelabuhan Demak mati dan peranan pelabuhan diambil alih oleh Jepara yang letaknya di sisi barat Pulau Muryo. Pelabuhannya cukup baik dan aman dari gelombang besar karena terlindung oleh tiga pulau yang terletak di depan pelabuhan. Kapal-kapal dagang yang berlayar dari Maluku ke Malaka atau sebaliknya selalu berlabuh di Jepara.

—————————————

Mengapa Selat Muria itu cepat sekali mendangkal bahkan kemudian lenyap? Sebab Selat Muria itu merupakan tempat yang sangat baik untuk menerima sedimen dari berbagai arah. Lihat saja peta terlampir. Di selatan terdapat memanjang Pegunungan Kapur Utara yang dierosi oleh banyak sungai mengalir dari selatan ke utara, membawa sedimen gampingan dan mengendapkannya di Selat Muria. Lalu di ujung barat selat ada Sungai Serang yang berhulu di area Pengging di sekitar Merbabu yang membawa sedimen ke utara dan diendapkan di muara Selat Muria. Dari utara ada Gunung Muria yang juga banyak sungainya, mengalir dari puncak Muria ke selatan dan mengendapkan sedimennya di Selat Muria.

Maka tak mengherankan Selat Muria relatif cepat mendangkal sampai akhirnya lenyap menjadi daratan mungkin sempurna lenyap pada abad ke-18. Lenyapnya Selat Muria berarti lenyap juga Pulau Muria sebab telah bersatu dengan Jawa Tengah. Dan ketika Daendels pada tahun 1808-1811 membangun jalan pos raya di Jawa, antara Semarang dan Rembang itu sudah berupa tanah daratan yang keras, dan sudah berupa jalan sederhana yang dilalui pedati-pedati, tinggal dilebarkan Daendels dan diberi batu-batu menjadi jalan permanen Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang.

Namun karena asalnya juga adalah sebuah selat, daerah rendah, tempat banyak sungai bermuara, jalan raya Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang adalah jalan yang sering dilanda banjir. Sungai-sungai besar di dekatnya, seperti Sungai Juwana, Sungai Tuntang, Sungai Serang bila volumenya besar akibat curah hujan tinggi, dan meluap, maka luapannya akan membanjiri daerah rendah bekas selat tersebut. Maka bila itu terjadi jalan raya “hilang”, berganti kembali menjadi “selat yang dangkal”.

—————————————

Demikian sedikit cerita tentang geo-histori jalan raya Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang, jalan raya bekas selat, yang pasti padat saat mudik-balik Lebaran terjadi. Bila kawan-kawan melaluinya saat mudik-balik ini, sambil berkendaraan ingatlah bahwa sekitar 500-300 tahun yang lalu jalan raya itu adalah sebuah selat yang ramai oleh kapal-kapal niaga Kerajaan Demak.***

Mudik-3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s