248. Evolusi Geologi Nusa Tenggara

Oleh: Awang H. Satyana

 

Mari kita sejenak melihat bagaimana Kepulauan Sunda Kecil (Lesser Sunda) atau Nusa Tenggara terjadi secara geologi (evolusi geologi). Evolusi geologi ini selanjutnya akan memengaruhi penghunian pulau-pulau ini kemudian, oleh hewan (masalah biogeografi), maupun manusia (masalah etnogenesis).

Secara ringkas, Nusa Tenggara penting dalam geologi Indonesia karena ia merupakan ‘jembatan’ penghubung dua massa benua besar di barat (Sunda-land) dan di timur (Sahul-land). Secara bio/zoogeografi penting Nusa Tenggara itu karena ia masuk ke wilayah Wallacea, suatu wilayah transisi antara kelompok fauna Oriental di barat dan Australian di timur, yang dicirikan oleh tingkat endemisitas/kekhasan lokal fauna yang tinggi. Secara etnogenesis penting juga, karena di sini telah ditemukan spesies-spesies manusia purba yang unik, misalnya Homo floresiensis, juga dalam penghunian periode lebih modern.

Yang dimaksud dengan Nusa Tenggara di sini adalah pulau-pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Komodo, Flores, Solor, Adonara, Lomblen, Pantar, Alor, Atauro, Wetar, Romang, Damar, Teun, Nila, Serua, Manuk. Bali dan Sumba tidak akan banyak dibahas karena pulau-pulau ini secara geologi dan tektonik berbeda dengan pulau-pulau lainnya.

Secara geologi, Bali sangat mirip degan Jawa, dan Sumba dianalisis sebagai sebuah mikrokontinen asal Sunda-land yang datang ke posisinya sekarang sejak 20 juta tahun yang lalu pada saat Nusa Tenggara belum ada. Saya pernah menulis paper soal perbedaan Bali dan Lombok (Satyana, A.H., 2012, Bali-Lombok Gap: A Distinct Geo-Biologic Border of the Wallace’s Line, Berita Sedimentologi, No. 25, November 2012, Forum Sedimentologiwan Indonesia (FOSI). Saya juga pernah membahas asal tektonik Pulau Sumba (Satyana, A.H. & Purwaningsih, M.E.M., 2012, New Look on the Origin of Sumba Terrane: Multidisciplinary Approaches, Berita Sedimentologi, No. 25, November 2012, Forum Sedimentologiwan Indonesia (FOSI).

—————————————————-

Secara geologi, kebanyakan pulau-pulau penyusun Nusa Tenggara muda umurnya, dari 1-15 juta tahun saja (Audley-Charles, 1987) dan terjadi sebagai pulau-pulau oseanik yang tak pernah terjadi berhubungan dengan massa kontinen besar. Pulau-pulau ini terjadi di tempat sebagai busur kepulauan akibat proses subduksi antara lempeng samudera Hindia dengan lempeng samudera di sebelah timur-tenggara Sunda-land. Umurnya yang muda dan isolasinya dari daratan besar akan berpengaruh terhadap evolusi flora dan faunanya. Migrasi spesies terbatas, dan spesies yang berhasil mengkoloni pulau-pulau ini kemudian akan terisolasi, lalu cenderung berevolusi menjadi biota endemik.

Meskipun Nusa Tenggara sudah lama dipelajari geologinya, tidak jauh mulainya dengan Jawa (misalnya oleh Verbeek, 1900, 1905 atau Brouwer dan Molengraaff, 1915) sampai sekarang, ternyata masalah evolusi geologi Nusa Tenggara belum sepenuhnya diketahui walaupun dalam sekitar dua puluh tahun terakhir banyak kemajuan penelitian di pulau-pulau ini, sehingga pemahaman yang lebih detail bisa diperoleh.

NUSA TENGGARA: “JUNCTION” BUSUR SUNDA & BUSUR BANDA

Pulau-pulau di Nusa Tenggara mengikuti dua busur, bagian timur Busur Sunda (Bali, Lombok, Sumbawa, Flores bagian barat), dan bagian barat Busur Banda (Flores bagian timur, Alor, Wetar, Romang, Damar, Teun, Nila, Serua). Di mana batas ini sesungguhnya masih diperdebatkan. Sumba merupakan blok ekslusif dalam hal ini. Uniknya, susunan dua busur ini diikuti pula oleh dua sistem palung yang berbeda. Palung yang berasosiasi dengan Busur Sunda adalah Palung Sunda (Sunda Trench) di selatan Bali-Sumbawa yang menunjam membentuk palung dengan kedalaman 6 km. Di sini lempeng samudera Hindia menunjam ke bawah Nusa Tenggara. Sistem palung ini berhenti di sebelah selatan Pulau Sumba. Lalu sistem palung berkitnya adalah Palung Timor (Timor Trough), yang dimulai di sebelah selatan Pulau Sumba ke arah timurlaut. Di sini lempeng benua Australia menunjam di bawah Nusa Tenggara dan Timor-Tanimbar sampai kedalaman 3 km. Perhatikan perbedaan istilah dalam bahasa Inggris untuk trench dan trough ini – itu memegang arti tersendiri dalam tektonik, yang tak nampak dalam istilah Indonesia yang menjadi satu (palung).

Bila subduksi lempeng samudera Hindia di Palung Sunda telah membentuk pulau-pulau volkanik busur kepulauan Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Alor, Wetar, Romang, Damar, Teun, Nila, dan Serua; maka penunjaman lempeng benua Australia di Palung Timor-Tanimbar telah membentuk pulau-pulau nonvolkanik yang disusun oleh mélange dimulai dari Rote, Timor, dan Tanimbar. Dua sistem busur kepulauan ini telah membentuk dua sistem busur kepulauan, yaitu busur kepulauan sebelah dalam yang volkanik – inner volcanic island arc (Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Alor, Wetar, Romang, Damar, Teun, Nila, dan Serua) dan busur kepulauan sebelah luar yang nonvolcanic – outer nonvolcanic island arc (Rote, Timor, Tanimbar).

Meskipun demikian, perlu diketahui bahwa pembagian menjadi dua sistem busur kepulauan ini hanya penyederhanaan. Evolusi busur kepulauan dalam yang volkanik mulai dari Flores bagian timur sampai Serua (Busur Banda) lebih kompleks daripada Busur Sunda (Bali, Lombok, Sumbawa, Flores bagian barat). Pulau-pulau volkanik Busur Banda sejak Pliosen (5 juta tahun yang lalu) berada di belakang sistem penunjaman Palung Timor, dan ini telah memengaruhi karakter tektonik dan volkanisme pulau-pulau ini yang berhubungan dengan adanya lempeng samudera tua yang terletak di depan lempeng benua Australia yang terseret masuk ke dalam Palung Timor.

Sesunguhnya, banyak pulau di Nusa Tenggara baru muncul di antara 10-1 juta tahun yang lalu. Pulau-pulau yang membentuk busur kepulauan sebelah dalam yang volkanik (Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo, Flores, Solor, Adonara, Lomblen, Pantar, Alor, Atauro, Wetar, Romang, Damar, Teun, Nila, Serua, Manuk) merupakan pulau-pulau volkanik muda yang terjadi dan muncul di permukaan pada Miosen Akhir-Pliosen. Pulau-pulau volkanik ini sering mempunyai batugamping terumbu di tepinya, atau material sedimen lainnya yang dierosi dari badan utama pulau dan tumbuh di antara lidah-lidah lava atau bentuk ekstrusi lainnya.
Lombok dan Sumbawa merupakan pulau-pulau di Busur Sunda yang paling timur, sebagian ada yang mengatakan Komodo dan Flores bagian barat merupakan kelanjutannya meskipun bisa diperdebatkan. Diskontinuitas antara Busur Sunda dan Busur Sumba dipisahkan oleh Sumba Fracture. Menarik mengkaji lebih jauh Pulau Komodo di “junction” antara dua sistem busur ini dan posisi Pulau Sumba di sebelah selatannya.

Secara umum, dari Bali ke Lombok, ke Sumbawa dan terus sampai ke timurnya umur batuannya yang ekivalen secara litologi semakin muda umurnya. Ini menunjukkan bahwa pembentukan pulau-pulau Nusa Tenggara dimulai dari barat ke timur.

DUA JALUR VOLKANIK DALAM SATU PULAU

Di pulau-pulau busur dalam, dua sistem perbukitan atau pegunungan terjadi, yaitu perbukitan/pegunungan volkanik yang lebih tua (Mio-Pliosen) yang sudah tererosi dalam/lanjut dicirikan dengan punggungan-punggungan sempit tererosi dalam, daan gunung-gunungapi muda Kuarter (Plistosen-Holosen) dengan bentuk-bentuk yang klasik mengerucut. Hal ini terjadi sebagai akibat perkembangan busur volkanik mengikuti zona subduksi yang menerus. Pada awalnya, subduksi menghasilkan pegunungan volkanik yang umumnya terdapat di selatan pulau-pulau Bali, Lombok, Sumbawa. Kemudian subduksi yang berlanjut disertai perubahan sudut penunjaman zona Benioff yang melandai daripada sebelumnya menghasilkan gunung-gunungapi Kuarter di sebelah utara pulau-pulau ini. Kasus ini sama seperti dengan yang terjadi di Jawa, Pegunungan Selatan Jawa adalah pegunungan volkanik yang lebih tua, dan yang lebih mudanya sampai dengan yang Kuarter sekarang bergerak ke utara. Tetapi hal ini tidak terjadi mulai dari Flores ke sebelah timurnya.

Contoh yang lebih detail tentang kasus di atas diambilkan contohnya untuk Lombok dan Sumbawa. Di kedua pulau ini, batuan-batuan volkanik tua (Mio-Pliosen) ada di selatan, sementara gunung-gunungapi Kuarter ada di sisi utara (Rinjani, Tambora, Satonda, Sangeang Api). Seperti di Jawa, pegunungan volkanik tua ini pun diperkirakan terjadi sebagai jalur volkanik bawahlaut karena intensifnya endapan batugamping yang terjadi bersamaan dengan batuan volkanik. Saat ini batugamping dan konglomerat yang merupakan asosiasi pegunungan volkanik tua membentuk tebing-tebing pantai berbatu, misalnya di dekat Kuta dan Blongas di selatan Lombok, atau tinggian Taliwang di baratdaya Sumbawa yang disusun oleh batugamping koral yang menumpu atas batuan volkanik andesitik tua. Kemudian pada Kuarter, seiring melandainya sudut penunjaman lempeng samudera Hindia di bawah pulau-pulau ini, terbentuklah jalur volkanik Kuarter yang kini membentuk gunung-gunungapi aktif di bagian utara pulau (sejak dari Gunung Agung di Bali, kemudian Rinjani, Tambora –juga Satonda, dan Sangeang Api). Di antara dua sistem pegunungan volkanik yang tua di selatan dan jalur volkanik Kuarter di utara, di tengahnya terbentuk dataran (central plains) yang menampung material hasil erosi dari perbukitan di selatan dan gunungapi Kuarter di utara. Wilayah dataran di tengah pulau-pulau ini merupakan wilayah yang sangat subur bagi pertanian.

Sementara pulau-pulau ke sebelah timur dari Sumbawa, mulai dari Komodo, lebih kompleks geologinya sebab mempunyai sejarah tektonik yang berbeda. Keberadaan elemen tektonik yang besar di utara pulau-pulau ini, Flores Thrust dan Wetar Thrust, ikut memperumit geologinya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s