255. “Supermoon” dan Geologi

Supermoon-1

Supermoon-2

Hari ini, 11 Agustus 2014, sambil menunggu kaca mata saya diperbaiki di sebuah toko optik, saya membaca koran Kompas hari ini. Di sebuah halamannya terbaca tentang aktivitas Gunung Slamet di Jawa Tengah yang tengah meradang sudah sebulan ini meskipun statusnya masih waspada dan penduduk di sekitarnya tenang-tenang saja. Di halaman lainnya ada sedikit tulisan tentang fenomena “supermoon” yang baru melalui Indonesia malam kemarin, 10-11 Agustus 2014.

Lalu saya tiba-tiba ingat sebuah isu tentang gejala-gejala langit seperti supermoon maupun kelurusan beberapa planet dengan Bumi yang suka dihebohkan bahwa gejala-gejala tersebut akan memicu bencana besar kegeologian di Bumi. Benarkah bahwa benda langit dapat menyebabkan bencana seperti gempa atau letusan gunungapi, termasuk mungkin menggerakkan lempeng-lempeng di Bumi?

———————————————–

“Supermoon” (saya beri tanda petik karena ini bukan istilah resmi dalam sains) adalah nama yang muncul di dunia astrologi (ilmu meramal/nujum nasib manusia berdasarkan posisi bintang-bintang zodiak),yang dipopulerkan media. Nama ini pertama kali dipakai oleh Richard Nolle, seorang praktisi astrologi, pada tahun 1979. Kalau dalam bahasa sainsnya, istilah resminya adalah: perigee-syzygy of the Earth-Moon-Sun system – jelas nama teknisnya kalah populer dibandingkan “supermoon”.

Supermoon atau perigee-syzygy of the Earth-Moon-Sun system itu adalah sebuah fenomena ketika pada bulan purnama atau bulan baru jarak Bulan dan Bumi terdekat, sehingga menampakkan ukuran piringan Bulan paling besar. Lintasan Bulan mengelilingi Bumi berbentuk elips, sehingga ada saatnya Bulan di posisi terjauh dari Bumi (posisi apogee) atau terdekat dari Bumi (posisi perigee). Jarak rata-rata Bulan-Bumi adalah 384.000 km, tetapi karena lintasannya elips, setiap bulan jaraknya bervariasi dari sekitar 357.000 km sampai 406.000 km. Saat Supermoon terjadi karena Bulan di posisi terdekat dengan Bumi, ukuran piringannya sekitar 14 % lebih lebar dan juga 30 % lebih terang dibandingkan bila Bulan di posisi titik terjauhnya (“Micromoon”). Tentu saja semua ini efek optik, sebab secara fisik Bulan tidak memuai atau menciut, dan menerang atau memudar pada saat supermoon atau micromoon.

11 Agustus 2014 semalam, pukul 18:09 GMT atau 01:09 WIB, Bulan berada pada jarak paling dekatnya untuk tahun 2014 ini yaitu pada jarak 356.896 kilometer. Jarak paling dekat tahun 2014 tersebut telah membuat Bulan 16 % tampak lebih besar dan 30 % terlihat lebih terang daripada biasanya.

———————————————–

Richard Nolle, sang astrologist, juga mengatakan bahwa Supermoon akan mengakibatkan “geophysical stress” pada Bumi, yang lalu berkembang di kalangan dunia astrologi bahwa Supermoon dapat mengakibatkan bencana-bencana besar di Bumi seperti gempa dan erupsi gunungapi. Bahkan, bersama kelurusan antarplanet dengan Bumi, bisa menjadi penyebab kiamat di Bumi. Demikian isunya.

Isu bahwa Supermoon dapat menyebabkan bencana gempa, tsunami, erupsi gunungapi telah ditolak oleh para ahli dari lembaga-lembaga sains, misalnya oleh para ilmuwan dari NASA atau USGS, masing-masing adalah lembaga astronomi-penerbangan luar angkasa dan lembaga geologi Amerika Serikat, juga oleh banyak ilmuwan lainnya.

Mana yang benar tentang hal ini, apakah para astrologist dan penyuka isu-isu kiamat atau para ilmuwan dari sains arus utama (mainstream sciences)?

Menurut hukum-hukum fisika Newton, khususnya Hukum Gravitasi Semesta/Umum, gravitasi (gaya tarik) antar dua benda berbanding lurus dengan massa-massa kedua benda tersebut dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda itu. Artinya, bila massa semakin besar maka gravitasi semakin besar, bila jarak semakin jauh maka gravitasi semakin kecil. Dalam kasus ini, maka gravitasi Bumi-Bulan jelas akan membesar saat Bulan mendekati atau di posisi terdekatnya dengan Bumi. Ini artinya Bulan akan menarik Bumi lebih kuat, juga Bumi akan menarik Bulan lebih kuat.

Dalam kasus Supermoon, masalahnya adalah seberapa kuat pertambahan gravitasi Bulan atas Bumi, apakah ia cukup kuat untuk mendeformasi lempeng-lempeng samudera yang tenggelam di bawah laut lebih dari 5000 m atau pertemuan antarlempeng sehingga mengakibatkan gempa, apakah ia cukup kuat untuk menggerakkan magma di dapur magma di dalam gunungapi sehingga gunungapi menggeliat, batuk, bahkan melontarkan magmanya beberapa ratus meter ke udara?

Bagaimana membuktikan bahwa Supermoon telah menyebabkan gempa dan aktivitas volkanik? Mudah saja, analisis saja waktu antara kejadian Supermoon dengan waktu kejadian gempa dan aktivitas volkanik dan buat korelasinya. Bila korelasinya positif, berapa persen positifnya, dan cek faktor-faktor lainnya.

Apakah ini sudah dilakukan? Tentu saja sudah dilakukan, dan menurut laporan-laporan para ilmuwan NASA dan USGS, bahwa Supermoon tak menyebabkan gempa, tsunami, erupsi volkanik, apalagi gerakan lempeng-lempeng Bumi. Bahwa Supermoon pernah dihubungkan dengan gempa-gempa dahsyat seperti Aceh 2004 dan gempa Jepang Tohoku 2011 tak terbukti. Gunung Slamet di Jawa Tengah pun telah aktif sejak sebulan sebelum Supermoon, dan lontaran lava pijarnya telah terjadi sebelum Supermoon datang, dan sampai sore tadi juga aktivitasnya tak meningkat tajam setelah Supermoon terjadi semalam.

Supermoon hanya menyebabkan pasang naik lebih tinggi, dan efek ini biasa terjadi pada setiap bulan purnama dan bulan baru, hanya pada supermoon sedikit lebih tinggi saja dan umum disebut perigean spring tides, menyebabkan pasang naik lebih tinggi beberapa inci saja.

——————————————————

Yang lebih pasti adalah bahwa pada saat Supermoon, justru Bulan yang lebih menderita mengalami geophysical stress dibandingkan Bumi. Bulan lebih banyak menderita gempa (moonquakes) seperti pernah dibuktikan oleh beberapa ilmuwan. Wajar, sebab gravitasi Bumi jauh lebih besar daripada Bulan, bukan sebaliknya.

Supermoon hanya asyik dipandang bila langit sedang cerah, bisa menambah romantisme, maka “Bruce the Almighty” saat dia diberi kekuasaan menjadi Tuhan, dia menarik Bulan lebih dekat ke Bumi agar dia bisa bermesraan dengan kekasihnya. Tetapi buat para serigala yang suka melolong dan orang-orang sakit jiwa kambuhan pada setiap bulan purnama muncul, maka pada saat Supermoon bisa jadi mereka mencapai titik ekstremnya…

Sampai berjumpa di Supermoon berikutnya, 9 September 2014.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s