Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024

Disusun Oleh:
Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN)

EXECUTIVE SUMMARY

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (Peta Gempa Indonesia) merupakan acuan nasional yang sangat penting dalam penetapan beban gempa untuk kebutuhan perencanaan pembangunan yang aman terhadap gempa. Sejak peluncuran Peta Gempa Indonesia 2017, telah terjadi sejumlah gempa besar seperti Gempa Lombok (2018), Palu (2018), Halmahera (2019), Ambon (2019), Mamuju (2021), Pasaman Barat (2022), dan Cianjur (2022). Gempa-gempa tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta menyebabkan kerugian ekonomi yang mencapai triliunan rupiah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.

Oleh karena itu, diperlukan upaya mitigasi untuk mengurangi dampak kerusakan akibat gempa, salah satunya melalui perencanaan dan konstruksi yang baik, yang sejak awal telah mempertimbangkan risiko gempa dalam desainnya. Salah satu informasi paling krusial yang dibutuhkan dalam perencanaan struktur dan infrastruktur tahan gempa adalah Peta Gempa Indonesia, yang menjadi acuan dalam penataan ruang, perancangan struktur bangunan, serta penyusunan regulasi teknis untuk bangunan gedung dan infrastruktur lainnya.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 (Peta Gempa Indonesia 2024) merupakan pembaharuan terhadap Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 (Peta Gempa Indonesia 2017). Dalam hal ini pemutakhiran yang dilakukan mencakup dalam penentuan jalur dan geometri sesar, penentuan segmentasi sesar, penambahan sumber gempa (sesar aktif), pengkajian skenario rupture, perhitungan magnitudo potensial (Mmaks), dan penentuan laju gerak (slip rate) sebagai masukan/input dalam membuat model bahaya gempa bumi yang lebih akurat. Selain itu dalam pemutakhiran peta gempa ini telah digunakan rumus atenuasi atau GMPE terbaru yang sesuai dengan kondisi kegempaan di Indonesia.

Peta Gempa Indonesia 2024 yang disusun untuk memperkuat ketahanan nasional terhadap risiko gempa bumi dan memastikan pembangunan infrastruktur yang lebih aman serta sesuai dengan kondisi geologi terkini. Pembaruan utama dalam peta ini meliputi:

  • Penambahan sumber gempa baru, baik di darat maupun laut, berdasarkan identifikasi sesar aktif yang lebih rinci. Jumlah sumber gempa dalam model meningkat signifikan dibanding versi sebelumnya. Pembahasan rinci mengenai sumber gempa dan karakteristik sesar aktif disajikan dalam Bab II.
  • Pembaharuan peta katalog kompilasi gempa Indonesia hingga tahun 2024 (Katalog PuSGeN 2024), termasuk gempa-gempa besar seperti Cianjur 2022 dan Bawean 2024 yang belum tercakup dalam Peta Gempa Indonesia 2017. Katalog ini telah direlokasi menggunakan model kecepatan 3D untuk meningkatkan akurasi posisi hiposenter, yang penting untuk estimasi laju kejadian gempa. Penjelasan teknisnya dibahas dalam Bab III.
  • Peningkatan akurasi data pemodelan, melalui integrasi data geologi, geodetik (GPS), dan seismologi terbaru. Hal ini mendukung pemodelan laju gempa dan propagasi getaran tanah yang lebih andal, sebagaimana dijelaskan dalam Bab IV hingga Bab VI.
  • Pemilihan GMPE (Ground Motion Prediction Equation) yang lebih sesuai dengan kondisi tektonik Indonesia, berdasarkan hasil studi dan evaluasi terbaru. Rincian metodologi dan hasil evaluasi GMPE dibahas dalam Bab VII.

PuSGeN melalui pokja-pokja telah melakukan berbagai pengembangan terkait penambahan sensor pengamatan gempa, data, metodologi, dan pengetahuan terkini dalam memetakan dan menganalisis karakterisasi segmen sesar aktif di Indonesia. Pada Peta Gempa Indonesia 2024 ini, telah dipetakan 401 sumber gempa beserta parameternya. Terdapat penambahan 129 sumber gempa baru, sedangkan jumlah segmentasi Megathrust pada peta tahun 2024 menjadi 14 segmen, dengan penyesuaian kedalaman slab hingga 40 km-50 km (Hayes et al., 2018), serta penyesuaian pada segmentasi Jawa, Halmahera, Sulawesi Utara dan Filipina. Sebagai contoh segmen Halmahera dan segmen Papua disesuaikan mekanismenya menjadi thrust.

Di wilayah Jawa, jumlah segmen sesar aktif meningkat dari 36 pada tahun 2017 menjadi 82 pada tahun 2024. Jumlah segmen di Sumatra meningkat dari 56 segmen pada 2017 menjadi 86 segmen pada 2024. Wilayah Nusa Tenggara-Banda bertambah 21 segmen baru menjadi 68 segmen. Wilayah Maluku-Papua, yang dikenal memiliki aktivitas tektonik yang tinggi, mengalami penurunan jumlah segmen dari 80 pada 2017 menjadi 78 pada 2024. Sementara itu, Kalimantan mencatat kenaikan dari 3 segmen pada 2017 menjadi 10 segmen pada 2024.

Sejalan dengan pembaruan pada model sumber gempa, proses pemodelan guncangan tanah (ground motion modeling) juga mengalami perubahan yang signifikan. Sebagaimana dibahas dalam Bab VII, model prediksi guncangan tanah (Ground Motion Prediction Equations/GMPEs) yang baru dipilih melalui proses evaluasi terstruktur yang melibatkan para ahli dari dalam dan luar negeri).

Untuk sumber kerak dangkal, GMPE yang digunakan pada pemodelan tahun 2024 relatif serupa dengan yang digunakan pada tahun 2017, yaitu yang diadopsi dari proyek NGA-West2. Model-model tersebut mencakup GMPE oleh Boore et al. (2014), Campbell dan Bozorgnia (2014), serta Chiou dan Youngs (2014), yang telah terbukti memberikan prediksi yang andal untuk gempa bermagnitudo menengah hingga besar di wilayah tektonik aktif. Untuk gempa subduksi, baik megathrust (interface) maupun Benioff (intraslab), dipilih GMPE dari Abrahamson dan Gülerce (2020), Kuehn et al. (2020), serta Zhao et al. (2006), yang dinilai mampu merepresentasikan perilaku guncangan tanah yang kompleks pada kedua jenis gempa tersebut.

Dalam penyusunan Peta Gempa Indonesia 2024, pendekatan logic tree diterapkan secara eksplisit untuk mengakomodasi berbagai bentuk ketidakpastian ilmiah pada beberapa komponen utama. Logic tree digunakan untuk memberikan bobot pada dua jenis model frekuensi kejadian gempa, yaitu Gutenberg–Richter dan model karakteristik, yang menggambarkan distribusi gempa besar dan kecil di suatu sumber. Selain itu, logic tree juga diterapkan pada parameter seismisitas (termasuk slip rate), pemilihan beberapa fungsi atenuasi (GMPE) yang dianggap relevan dengan kondisi geologi Indonesia, serta pada penetapan magnitudo maksimum (Mmaks). Melalui logic tree, seluruh variasi model ini dimasukkan ke dalam perhitungan bahaya gempa secara sistematis, dengan pembobotan yang proporsional untuk menghasilkan estimasi yang lebih representatif dan transparan.

Penyusunan peta ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) untuk menghasilkan estimasi bahaya gempa yang komprehensif. Proses ini dijelaskan secara lengkap dalam Bab VIII.
Hasil akhir dari penyusunan Peta Gempa Indonesia 2024 adalah kumpulan peta kontur yang menggambarkan percepatan tanah di batuan dasar (Site Class B) untuk berbagai periode ulang. Peta ini disajikan dalam bentuk percepatan puncak (PGA) serta percepatan spektral pada periode getar 0,2 dan 1,0 detik, untuk berbagai tingkat probabilitas terlampaui dan masa layan. Terdapat sembilan belas (19) jenis Peta Gempa Indonesia Tahun 2024 mencakup periode ulang mulai dari 50 tahun hingga 10.000 tahun.

Berdasarkan hasil kajian Tim Pemutakhiran Peta Gempa Indonesia 2024, disampaikan rekomendasi agar pemutakhiran peta gempa Indonesia dilakukan secara berkala atau berkelanjutan dan sistematis. Siklus pembaruan ini penting mengingat terus berkembangnya informasi ilmiah seperti identifikasi sesar aktif baru, data deformasi permukaan dari pengukuran geodesi, hasil relokasi episenter dan tomografi, pemutakhiran fungsi atenuasi (GMPE), serta kemajuan dalam perangkat lunak dan metode komputasi analisis bahaya gempa.

Wilayah dengan potensi gempa bermagnitudo ≥6, terutama yang berdekatan dengan kota-kota besar, direkomendasikan untuk menjadi prioritas riset lanjutan yang lebih detail, komprehensif, dan terintegrasi. Sebagai bagian dari upaya peningkatan ketangguhan wilayah dan infrastruktur nasional terhadap bahaya gempa, pemutakhiran Peta Gempa Indonesia 2024 tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga harus diiringi dengan dorongan terhadap riset kebencanaan yang mendalam, termasuk pemetaan mikrozonasi dan potensi dampak ikutan seperti likuefaksi, gerakan tanah, dan tsunami.

Download [PDF]

Riset Geologi dan Pertambangan Volume 34 No 1 (2024)

Dear RGP readers,


We present the first issue of Volume 34 of Riset Geologi dan Pertambangan (Geology and Mining Research). This issue publishes five articles that covered topics on hydrogeology, mining, petrology, and geochemistry. In the first article, Mareta et al. present the water critically index of Welaran area in Central Java, Indonesia. The higher the WCI value, the more concerned the water conditions in the area will be. The water crisis can be handled if various parties manage water resources following good management. The Welaran area is part of the Lukulo Watershed, where the population often experiences water shortages. In 2020, Karangsambung has been designated as a part of Kebumen Global Geopark, which will certainly increase the number of tourists visiting here. The increase in tourist visits will also increase the need for water, including in the Welaran Watershed. The second article by Kasih et al. briefly explained mine drainage system design in a coal mine in Kalimantan, Indonesia. This mine drainage system aims to ensure that mining activity areas are not flooded during the rainy season. The drainage system consists of designing sump dimensions, open
channels, settling ponds, and pumping and piping systems. In the third paper, Al Kausar et al. elucidate geochemical analysis, including major, trace and rare earth
elements, conducted by fusion ICP-MS to find out the different composition of volcanic rocks in the Karaha-Talagabodas fields in West Java, Indonesia. The major element diagram shows the sampled rocks consist of calc-alkaline for andesite of Karaha and basalt, basaltic andesite, and andesite of tholeiitic environments for the Talagabodas volcanic rocks. The normalized REE diagram of N-MORB shows the similarity of the pattern of all Talagabodas volcanic rocks, whereas the Karaha andesite rocks show
slight REE enrichment and europium depletion. The next article investigates the possibility of using flotation process wastes from Buzlukdağı feldspar beneficiation plant, Türkiye as an alternative raw material. Ozgul & Ozcelik evaluate the use of wastes from feldspar enrichment and feldspar processes as alternative raw materials in another process and investigating their usability as a final product in various sectors and fields. The results show that the process can be used for technological purposes. Furthermore, the wastes from the enrichment can be used to provide permeability in urban waste storage areas and hydroelectric dam construction.
In the last paper, based on analyses of published geological data, Abdalla et al. reviewed several possible mechanisms of this backarc thrust in western Java. Previous works proposed that the backarc thrust in western Java may have developed as deformation of paleo-accretionary wedge sediments behind a continental backstop, inverted normal fault, northward migrating thrust belt, and thrusting due to
gravitational sliding of the volcanic arc. However, evidences supporting those mechanisms still need to be elucidated.


Riset Geologi dan Pertambangan – Geology and Mining Research welcomes your contributions in the forthcoming issues. We sincerely acknowledge all the authors and outstanding reviewers for their valuable contributions to this issue. We recognize all the editorial members and staffs for their continuous fineness support for the publication of this volume.
The Editors

Detil struktur seismik di bawah zona gempa Yogyakarta 2006 (Mw ∼6.4), Indonesia berdasarkan tomografi gempa lokal (Librian et al., PEPI, 2024)

Paper yang ditulis oleh Mas Virga (BMKG) beserta kawan-kawan dari ITB, BRIN, GFZ, dan UGM ini mengulas mengenai detil struktur kegempaan yang terjadi 18 tahun yang lalu di Yogyakarta. Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 26 Mei 2006 dengan magnitud Mw ∼6,4 ini merupakan salah satu gempa bumi paling merusak di Indonesia. Gempa tersebut menimbulkan ribuan korban jiwa, puluhan ribu luka-luka, dan ratusan ribu kerusakan rumah di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dengan kerugian yang besar. Studi sebelumnya dari tomografi seismik dan pencitraan radar satelit berhipotesis bahwa gempa tersebut disebabkan oleh aktifnya sesar yang sejauh ini tidak diketahui di sebelah timur Sesar Opak. Padahal, sesar Opak awalnya diduga menjadi sumber terjadinya gempa tersebut. Dugaan tersebut muncul karena kerusakan terparah terjadi di wilayah Bantul sebelah barat Sesar Opak. Studi ini menunjukkan bahwa tomografi seismik kami mempunyai resolusi yang lebih tinggi dibandingkan penelitian sebelumnya dan dapat menggambarkan sistem sesar yang terjadi. Kami memanfaatkan lebih banyak gempa susulan dan ukuran grid yang lebih kecil untuk inversi tomografi seismik. Kami berhasil menggambarkan Sesar Opak dan sesar kedua yaitu Sesar Ngalang pada kedalaman 9 km. Dua sesar ini ditunjukkan oleh kontras kecepatan Vp, rasio Vp/Vs, dan Vs dari tomogram bagian horizontal. Kedua sesar tersebut dihubungkan oleh Sesar Oyo yang patahnya berlawanan arah dibandingkan kedua sesar tersebut. Semoga bermanfaat. Salam.

Baca artikel ini di penerbit.