254. Prof. Dr. Robert Hall & Saya

Prof. Dr. Robert Hall

Bulan September 2012 di Pertemuan AAPG (American Association of Petroleum Geologists) di Singapura saya adalah satu-satunya orang Indonesia yang diundang sebagai pembicara dari sekitar sepuluh pembicara di sesi khusus membahas Tektonik Borneo dalam Sesi Memorial Charles Hutchison – seorang “raksasa” tektonik SE Asia yang meninggal tahun 2011, dan semasa hidupnya sangat suka membahas tektonik Borneo-Kalimantan.

Kira-kira setahun sebelumnya, Prof. Robert Hall – sebuah nama yang sangat terkenal di dunia internasional dalam bidang tektonik SE Asia, dan penggagas sesi memorial Charles Hutchison ini, menghubungi saya untuk mengundang saya sebagai pembicara di sesi yang akan dipimpinnya. Saya lihat di e-mailnya, ada dua nama yang diundangnya: Dr. Benyamin Sapiie (ITB – semua orang tentu kenal Pak Benyamin adalah ahli geologi struktur dan tektonik), dan saya. Namun saya tidak tahu apakah Pak Benyamin berminat atau tidak sebab di korespondensi-korespondensi selanjutnya Prof. Robert Hall hanya melakukannya dengan saya.

Ini adalah apresiasi tersendiri untuk saya, sekaligus tantangan, maka saya jawab tantangannya dengan mengajukan paper dan presentasi ini: “Accretion and Dispersion of Southeastern Sundaland: The Growing and Slivering of Continent and Petroleum Implications”

——————————————————

Di Indonesia dan Asia Tenggara, nama Prof. Dr. Robert Hall sangat terkenal dalam bidang tektonik. Robert Hall adalah Direktur SE Asia Research Group yang intensif sekali meneliti geologi dan tektonik Asia Tenggara dan terutama Indonesia karena wilayah Indonesia paling luas di Asia Tenggara. Dalam melakukan penelitiannya, Robert Hall aktif bekerja sama dengan institusi-institusi dan universitas-universitas di Indonesia. Cukup banyak mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sempat belajar di Inggris dalam kaitan SE Asia Research Group ini, dari tingkat master sampai doktor. Beberapa dari mereka kini bekerja di oil company di Indonesia, atau kembali ke perguruan tinggi dan institusinya.

Saya bukan seorang ahli tektonik, sekalipun di muka umum saat pertemuan ilmiah tahunan ke-37 IAGI di Bandung tahun 2008 Prof. Dr. Sukendar Asikin (alm.) – guru dan tokoh tektonik Indonesia, pernah menyebut saya sebagai seorang ahli tektonik, ketika beliau mengomentari presentasi saya kala itu tentang erupsi gununglumpur Sangiran dan pengaruhnya atas migrasi Homo erectus. Paper saya tentang tektonik Indonesia yang dipublikasikan dalam berbagai pertemuan ilmiah memang cukup banyak, juga ada beberapa di jurnal. Saya bukan ahli, bukan spesialis, saya hanya menyukai dan menekuni tektonik, dan menemukan beberapa penemuan tentang tektonik Indonesia karena kesukaan dan ketekunan itu, bukan karena pendidikan. Dan bukan hanya tektonik yang saya sukai dan tekuni.

Karena membahas hal yang sama, tektonik Indonesia, sedikit banyak pekerjaan saya dan pekerjaan Robert Hall serta Groupnya bersinggungan, baik dalam posisi satu interpretasi atau pun berlawanan. Secara pribadi, saya dan Robert Hall berkawan secara profesional. Belakangan, hampir setiap tahun kami punya kelas kursus di IPA (Indonesian Petroleum Association) bersebelahan. Robert Hall mengajar Tectonic Models of SE Asia, saya mengajar Petroleum Geology of Indonesia. Kalau ada info atau data baru, kami suka juga membicarakannya.

Perbedaan yang menyolok adalah pekerjaan-pekerjaan tektonik dilakukan Robert Hall bersama Groupnya, atau di kampus-kampus, institusi-institusi di Indonesia juga bila ada pasti dilakukan secara berkelompok, sementara pekerjaan-pekerjaan tektonik yang saya lakukan benar-benar secara “single fighter”, dan mengumumkannya di pertemuan-pertemuan ilmiah untuk dikomunikasikan dan mendapatkan respon.

Perkenalan pertama kami secara pribadi terjadi pada tujuh tahun yang lalu, 2007, meskipun saya sudah mengamati kiprah Robert Hall dan Groupnya sejak 1995, ketika Robert Hall presentasi untuk pertama kalinya di Indonesia tahun 1995 dan memukau dengan menampilkan animasinya yang terkenal tentang rekonstruksi tektonik Indonesia. Pada 2007 itu, di Pertemuan IPA, Robert Hall dan saya presentasi berurutan di satu sesi, dan ternyata paper kami bersinggungan dan bertolak belakang interpretasinya. Saat itu, Robert Hall presentasi tentang Tektonik Jawa bersama para muridnya, dan saya presentasi tentang Tektonik Jawa Tengah. Di Jawa Tengah, Robert Hall mengatakan bahwa Pegunungan Selatannya hilang karena dierosi, dan ketika saya presentasi saya mengatakan Pegunungan Selatan Jawa Tengah hilang karena runtuh ke selatan, utuh masih ada hanya ditutupi sedimen yang lebih muda.

Kala itu, Robert Hall tak mendebat saya, saya juga tak mendebat Robert Hall. Kami hanya saling melempar senyum dan bertukar kartu nama. Saya tentu tahu Robert Hall karena saya sudah lama mengamatinya, Robert Hall juga mungkin tahu saya sebab dia berkata begini ketika membaca kartu nama saya, “O..so you do your research so far as a hobby?” Saya menggangguk. Robert Hall membaca institusi saya, sebuah kantor birokrat (BPMIGAS saat itu), tetapi presentasi saya sangat teknis. Sementara Robert Hall seorang Direktur Research Group. Dugaan yang tepat, hampir semua paper saya memang lahir karena hobi riset pribadi yang saya lakukan sendiri.

Begitulah, tahun 2014 ini di Pertemuan IPA, Prof. Robert Hall mendapatkan penghargaan khusus karena konsistensinya dalam penelitian geologi dan tektonik di Indonesia dari tahun 1995, hampir selama 20 tahun, yang juga mendidik orang-orang Indonesia dan bekerja sama dalam beberapa penelitian dengan institusi-institusi di Indonesia. Dan di Pertemuan IPA itu juga banyak sesi-sesi tektonik dialokasikan untuk SE Asia Research Group, banyak mahasiswa Robert Hall presentasi, hampir semuanya kandidat doktor, kebanyakan dari luar (orang asing).

Saya juga ada di sesi-sesi yang disediakan buat tektonik yang dikoordinasi Prof. Robert Hall itu, presentasi paper berjudul, “New Consideration on the Cretaceous Subduction Zones of Ciletuh-Luk Ulo-Bayat-Meratus: Implications for Southeast Sundaland Petroleum Geology”.

Tentu saya di situ bukan sebagai bagian dari SE Asia Research Group, bukan sebagai mahasiswa Robert Hall – tetapi sebagai seorang geologist Indonesia dari SKK Migas yang berkarya untuk Geologi Indonesia.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s