016. Laporan Perjalanan Geotrek Indonesia – Toba (2-4 November 2012)

“Memandang alam dengan pengertian jauh lebih berarti dan menyukakan hati daripada hanya menyaksikan keelokannya” (Albert Heim, 1878, dalam Mechanismus der Gebirgsbildung)

Kita bisa pergi ke Toba sendirian atau bersama kawan-kawan, menikmati keelokannya. Tetapi itu tidak cukup, sebab Toba mempunyak banyak hal untuk dikagumi selain keelokannya. GeotrekIndonesia mengemas paket perjalanan wisata dan belajar di lapangan, langsung di tempatnya. Geotrek Indonesia berusaha memaknai keindahan dan kedahsyatan Geo-Histori Indonesia. Semoga kita makin mencintai Indonesia setelah melakukan perjalanan yang bermakna.

Ini ringkasan kegiatan Geotrek Indonesia (GI) mengunjungi Toba,Sumatra Utara pada Jumat-Minggu 2-4 November 2012 yang baru berlalu. Secara ringkas, kegiatan berjalan lancar dengan cuaca yang bersahabat sekalipun di tengah musim hujan. Jumlah peserta 40 orang termasuk beberapa peserta expat yang bekerja di Indonesia. Banyak peserta baru (baru mengikuti kegiatan GI), sekitar seperempatnya. Saya mencatatnya sebagai seorang pengamat, penggiat, interpreter, dan “kepala sekolah” GI.

Beberapa peserta telah berangkat ke Medan pada hari Kamis 1 November untuk menikmati wisata kota Medan. Sebagian besar peserta dari Bandung berangkat pada Jumat pagi 2 November untuk berwisata dulu di kota Medan sebelum menuju Toba. Sebagian peserta dari Jakarta berangkat sore harinya. Karena terjadi perlambatan jadwal terbang, beberapa peserta baru tiba menjelang tengah malam di Medan.
Tujuan pertama adalah menuju Brastagi. Karena para peserta terbagi ke dalam beberapa kloter (kelompok terbang), maka mereka pun masuk ke hotel di Brastagi berbeda-beda waktunya, ada yang Jumat sore, Jumat malam, dan karena perlambatan jadwal terbang, yang terakhir masuk ke hotel di Brastagi adalah pada pukul 02.00 Sabtu 3 November.

Sabtu 3 November 2012 adalah hari yang panjang bagi kami, dimulai di Brastagi pukul 07.30 dan berakhir di Tuktuk, Samosir dalam suatu kelas malam sampai pukul 23.30.
Setelah sarapan, peserta dikumpulkan di halaman hotel pada posisi yang baik untuk mengamati Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. Pada saat pengamatan, cuaca bersahabat membukakan tabir kabut pada kedua gunung, dan uniknya setelah kuliah di halaman itu selesai, tabir kabut menutup kembali. Di halaman itu kami mendiskusikan masalah klasifikasi gunungapi “ABC” dan pemanfaatan panasbumi Sibayak. Gunung Sinabung pada 29 Agustus 2010-7 September 2010 membuat heboh dengan meletus setelah tertidur sekian ratus tahun. Semula ia diklasifikasikan kelas B karena tak pernah meletus sekali pun sejak tahun 1600. Sekarang gunung ini mesti diklasifikasikan kelas A karena meletus pada 2010… Sebuah pelajaran karena klasifikasi ABC itu hanyalah berdasarkan statistik letusan, bukan mekanisme letusan, jadi gunungapi B bisa naik kelas menjadi kelas A. Gunung Sibayak dimanfaatkan panas buminya sejak 2008 dengan kapasitas 12 MW. Tentu pemanfaatan ini masih minimal dibandingkan potensi di Sumatra Utara sebesar 3626 MW dari 16 lokasi (tidak mudah mengembangkan energi panasbumi di Indonesia, masalah koordinasi antarsektor saja belum apa-apa sudah jadi masalah…).

Potensi panasbumi Indonesia dengan 27.000 MW (40 % potensi dunia) adalah yang terbesar di dunia. Itu setara dengan sumberdaya migas sebesar 13 BBOE (bilyun barel oil ekivalen), atau sekitar 3x cadangan terbukti minyak Indonesia. Tetapi, yang termanfaatkan baru 1200 MW.

Dengan dua bus berukuran 3/4, perjalanan dilanjutkan ke area utama perjalanan GI: Danau Toba. Lokasi berikutnya adalah air terjun Sipiso piso. Perjalanan ke sana sekitar dua jam. Di sepanjang perjalanan Brastagi-Merek (lokasi air terjun Sipiso piso di Merek, di sebelah utara Danau Toba) tersingkap batuan tuf asal pengerasan abu volkanik yang diletuskan secara megakolosal oleh Gunungapi Toba pada 74.000 tahun yang lalu.

Lalu kami tiba di lokasi gardu pandang yang posisinya baik sekali untuk mengamati air terjun Sipiso piso ke utara dan Danau Toba ke selatan. Di tempat ini kami mendiskusikan kejadian air terjun Sipiso piso dan Danau Toba (geologi, tektonik dan volkanisme Toba). Air terjun Sipiso piso terjadi pada patahan yang berhubungan dengan runtuhan Toba pada saat kaldera Toba terbentuk. Air terjun ini berasal dari sungai bawahtanah yang mengalir dari tinggian Plato Karo dan terjun setinggi 120 meter (salah satu air terjun tertinggi di Indonesia) lalu mengalir ke Danau Toba. Tebing air terjun ini adalah tuf yang mengeras yang juga hasil erupsi Gunungapi Toba. Dinding tebing di sebelah selatan (kiri) air terjun lurus utara-selatan, itulah gawir sesar runtuhan kaldera Toba. Pandangan luas ke selatan menuju Danau Toba memang mengesankan bahwa danau ini terbesar di Asia Tenggara dengan luas maksimum 100 x 31 km membujur baratlaut-tenggara. Kami mendiskusikan kejadian danau ini yang untuk pertama kalinya disebut sebagai danau tektono-volkanik oleh van Bemmelen (1949). Kami juga mendiskusikan asalPulau Samosir yang terkenal sebagai “resurgent cauldron” (bagian kaldera yang terangkat kembali). Kawah Toba dan resurgent cauldron Samosir adalah terbesar di dunia.

Dari Merek, kami masuk ke sebelah baratlaut Danau Toba menuju jalan Merek-Sidikalang berarah hampir barat-timur. Jalan ini akan memotong Sesar Sumatra, kemudian akan membelok ke sebelah tenggara menuju Hutagalung-Doloksanggul atau bagian barat Danau Toba pada ruas jalan yang sejajar atau duduk di atas Sesar Sumatra. Jalan antara Merek dan Sidikalang ini berbukit-bukit, turun naik, berliku-liku karena badan jalan memotong tegak lurus sebagian lereng Pegunungan Wilhelmina. Beberapa singkapan pada tebing jalan menunjukkan beberapa batuan metamorf seperti filit dengan retakan yang kuat dan sistematik. Umur batuan ini Permo-Karbon, sekitar 300 juta tahun. Sayang, lebar jalan terlalu sempit sehingga tidak aman buat dua bus rombongan GI berhenti dan mengamati tebing Pegunungan Wilhelmina tersebut.
Selepas dari jalan berliku-liku itu, kami memasuki suatu lembah yang dipotong jalan. Inilah lembah Batang Toru-Renun, lembah yang terbuka berarah BL-Tenggara yang merupakan “strike valley” Sesar Sumatra, atau lembah yang sejajar dengan jalur Sesar Sumatra. Lalu kami melewati Sumbul, kota kecil di tengah lembah ini. Kami berhenti di sini untuk makan siang di sebuah restoran.

Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Sebelum sampai Sidikalang, kami membelok tajam ke arah tenggara menuju Hutagalung dan Doloksanggul. Inilah ruas jalan yang sejajar dengan Sesar Sumatra. Setelah berjalan cukup jauh, di sebuah tempat yang aman untuk dua bus parkir, kami berhenti untuk mengamati strike valley Sesar Sumatra. Data lokasi berhenti di GPS menunjukkan kami tepat berdiri di atas Sesar Sumatra. Maka kami mendiskusikan Sesar Sumatra yang strike valley-nya kami lihat langsung di lapangan, berupa lembah yang tajam, panjang atau dataran terbuka yang ditanami ladang. Tempat kami berdiri adalah Segmen Tarutung, salah satu segmen Sesar Sumatra dari sekitar 20 segmen sesar ini yang panjang totalnya sampai 1700 km itu.

Perjalanan dilanjutkan, dan mulai hujan. Ah untung saat berdiskusi Sesar Sumatra di lembahnya yang terbuka belum hujan. Kami akan menuju Tele untuk memasuki Danau Toba dari sebelah barat. Sebelum jalan berbelok ke Tele di sekitar Parbakalan, jalan begitu macet dan dipenuhi truk-truk besar padahal jalan sempit. Ada apa ini? Rupanya di depan ada truk besar terguling ke sisi kiri jalan, sementara di sisi kanan ada bus sedang ganti ban. Wah…perjalanan kami terancam sekali terganggu. Untunglah kami bisa menegosiasi polisi sehingga dua bus kami diizinkan berangkat terlebih dahulu meskipun sangat menegangkan sebab dua bus harus melalui setengah jalan di antara truk terguling dan bus yang ganti ban pada lebar jalan yang sempit dan berpotensi bisa menggulingkan bus juga bila tidak ekstra hati-hati. Semua peserta berdoa dan Puji Tuhan, Alhamdulillah, dua bus kami bisa melalui jalur “bottleneck” yang berbahaya itu…
Menjelang menuju Tele, kami disuguhi pemandangan bagian barat Danau Toba yang sungguh spektakular, “…wow…wow…” begitu seruan para peserta tak henti-hentinya.

Di Tele ada gardu pandang setinggi sekitar 25 meter tiga lantai. Dari gardu pandang ini terhampar pemandangan Danau Toba dari utara ke selatan dilihat dari sebelah barat. Terlihat dari sini gunung-gunung tua berumur pra-Tersier (>65 juta tahun yang lalu), Pulau Samosir, tepi/tebing DanauToba yang tegak berupa gawir sesar setinggi 400-1200 meter, dan gunung anak kaldera Toba: Gunung Pusuk Buhit, yang tumbuh di tepi barat Danau Toba di area patahan runtuhan kaldera. Kabut sore itu berganti-ganti menutup dan membuka Gunung Pusuk Buhit. Gunung ini dipercaya sebagai asal muasal Suku Batak. Megalit tertua di Sumatra Utara ditemukan di kaki gunung ini.

Tidak jauh dari Tele, kami berhenti lagi di sebuah tepi tebing jalan. Di sini tersingkap abu volkanik Toba hasil letusan 74.000 tahun yl, yang sangat mengeras, welded tuff, yang dulu terkenal bernama ignimbrit. Secara sekilas, nampak sebagai blok-blok granit. Setelah mengamatinya lebih detail, inilah yang disebut tuf riolitik oleh van Bemmelen (1949). Singkapan ini tererosi sehingga membentuk blok-blok terpisah, juga teroksidasi sehingga warnanya sebagian merah. Produk erosinya tumpah ruah di tepi badan jalan berupa bubuk-bubuk kaca dan kuarsa. Kaca (glass shards) adalah penciri utama abu volkanik dan tuf.

Sebelum menyeberang ke Samosir, kami mengunjungi dulu gejala hidrotermal di kaki Gunung Pusuk Buhit, berupa mata air panas, fumarola, solfatara dan batuan-batuan yang terubah oleh gejala hidrotermal ini. Air panas ini menunjukkan Toba sama-sekali belum mati sebagai gunungapi, tetapi aktivitasnya sudah jauh berkurang. Air panas ini dimanfaatkan untuk berendam ala spa di kamar-kamar berendam yang dibangun di sekitarnya.

Lalu kami pun menyeberang ke Pulau Samosir melalui jembatan pendek saja di wilayah Pangururan. Jembatan ini terletak di atas “terusan” yang digali Belanda tahun 1906 sehingga membuat Samosir menjadi pulau, sebelumnya Samosir adalah sebuah tanjung yang membesar ke Danau Toba. Tanah genting antara Pusuk Buhit dan Pangururan digali Belanda menjadi semacam terusan yang sekarang tinggal seperti laguna atau sungai mati.

Di sekitar kota kecamatan Pangururan kami sempat istirahat sebentar, kebetulan jalan juga ramai oleh pesta perkawinan Batak yang sangat meriah dan ramai serta colorful. Pukul 19.30 kami masuk ke penginapan di Tuktuk, sebuah semenanjung kecil Samosir yang menjorok ke Danau Toba.

Setelah makan malam dan beristirahat, pukul 21.00-23.30 kami berkumpul di pojok lobby hotel yang disulap menjadi kelas. Kuliah malam, kegiatan khas GI, dilangsungkan. Lebih dari 100 slides menjadi bahan diskusi kami, mendiskusikan hal2: (1) geologi dan tektonik Toba, (2) supererupsi Toba 74.000 tanun yl, (3) katastrofi geologi dan klimatologi karena letusan Toba tersebut, (4) genetika-bagaimana DNA membuka sejarah evolusi dan migrasi manusia purba dan modern, dan (5) kepunahan masa melalui genetic bottlenecking akibat supererupsi Toba. Didiskusikan juga ringkasan rencana perjalanan GI selanjutnya, yaitu ke Gunung Sewu, Pacitan, mengusung tema: Ancient Pacitanian untuk memahami topografi karst, gua, dan prehistori Indonesia dalam era paleolitikum, preneolitikum, neolitikum dan paleometalik.
Itulah hari yang panjang dan penuh buat kami, semoga semua peserta mengalami dan mendapatkan banyak pengetahuan baru, khususnya tentang Toba dan yang berkaitan.

Hari Minggu 4 November 2012 dibuka dengan beberapa peserta GI yang berenang di Danau Toba di depan hotel.

Setelah sarapan, dengan fery dari dermaga di belakang hotel kami menuju Tomok untuk melihat beberapa peninggalan tradisional di kampung Tomok yang dulu menjadi pusat kerajaan Batak dari marga Sidabutar. Tomok memang menjadi sasaran utama pariwisata Toba di Samosir. Di sini bisa disaksikan peninggalan rumah adat Batak, patung-patung megalitik, dan beberapa kubur batu raja-raja Sidabutar bersama kerabatnya.

Atraksi yang pertama kami saksikan dan alami adalah pertunjukan tarian patung kayu Sigale-gale yang kini digerakkan oleh tali-temali (dulu konon patung kayu ini bisa menari sendiri melalu ilmu sihir, sekarang karena praktek sihir dilarang oleh agama yang telah mereka anut, maka tarian Sigale-gale dilakukan oleh ketrampilan menarik tali). Tarian patung kayu ini serta-merta diikuti oleh hampir seluruh peserta GI dengan iringan lagu-lagu Batak yang membuat susah menahan diri untuk tidak bergoyang tor-tor sambil mengenakan ulos.

Lalu kami mengunjungi beberapa kubur-kubur batu/sarkofagus raja-raja Sidabutar dan kerabatnya yang umurnya sudah 400 tahun saat masih memeluk agama suku bernama Parmalim. Konon pada saat terjadi gempa Aceh 26 Desember 2004, tutup-tutup peti kubur batu ini terjatuh sehingga para keturunan Sidabutar yang masih bermukim di Tomok bisa menyaksikan tulang-belulang atau sisa tubuh para raja leluhurnya.

Tak bisa berlama-lama di sini, setelah berbelanja oleh2 yang banyak tersedia di kios-kios sepanjang jalan turis, kami pun segera kembali ke fery untuk menyeberang ke Parapat. Perjalanan sekitar setengah jam ke Parapat kami isi dengan mendiskusikan bagaimana Pulau Samosir terbelah bersama saudara kembarnya, Blok Uluan, lalu terangkat kembali, yang bisa kami saksikan sangat jelas bahwa kedua pasangan ini dipisahkan oleh Selat Latung sedalam 400 meter. Lalu di ujung utara, kami melihat gunung berbentuk segitiga sempurna Tanduk Benua, gunungapi termuda di ujung utara Toba yang muncul setelah kaldera runtuh. Di atas fery, kami juga sempat mendiskusikan kesan dan pesan tentang GI Toba, terutama dari para peserta baru.

Selanjutnya adalah perjalanan kembali ke Medan melalui Pematang Siantar dan Tebing Tinggi yang ditempuh dalam waktu sekitar lima jam dari Parapat. Dari Medan, para peserta kembali ke Jakarta dan Bandung melalui berbagai kloter. Tetapi ada juga beberapa peserta yang masih meneruskan perjalanan wisatanya di Medan dan sekitarnya.

Demikian, semoga semua peserta GI Toba sekarang lebih paham tentang Toba daripada sebelumnya – gunungapi dengan sejarah letusan terbesar di dunia yang pernah membuat katastrofi geologi, klimatologi dan biologi di Bumi pada masanya.

Salam dari “Kepala Sekolah” untuk para peserta GI Toba dengan pesan: buku Tobanya dibaca ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s